jump to navigation

Miskin: Haram dalam Islam (?) December 7, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , , , , ,
trackback
Haram dalam Islam

Pintar juga orang menarik perhatian. Majalah Kubah Emas Edisi 5 Desember 2008 menulis “Miskin: Haram dalam Islam”. Tetapi itulah sebuah judul, memang seharusnya dibuat agar orang menjadi penasaran dan paling tidak tertarik untuk membaca. Atas dasar logika apa Islam mengharamkan kemiskinan? Bukankah ALLAH SWT Yang Maha Kaya itu pula yang menetapkan rizki masing-masing mahluknya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Tetapi setelah membaca isinya, kesan yang tertangkap justru keunikan “kekayaan” Rasulullah Yang Dimuliakan oleh ALLAH itu.

Salah satu tulisan sebagai contoh.

konglomerat

Coba baca sepintas judul “Konglomerat itu Muhammad SAW”, di halaman 24 – 27. Judulnya saja sudah sangat berkesan mewah.

Dimulai dengan kalimat pembuka “Orang lebih mengenal sosok Muhammad SAW sebagai seorang Rasul yang hidup sangat sederhana. Padahal sebelum menjadi utusan ALLAH, beliau merupakan entrepreneur (pengusaha) sukses. Bahkan profesinya sebagai pedagang, lebih lama dibanding masa kerasulannya. Andapun mungkin terkejut bila sejarah ternyata mencatat Rasulullah SAW juga seorang kaya raya dengan harta berlimpah”.

Aku yakin orang akan tersesat dengan kalimat-kalimat yang digambarkan itu. Kalimat yang menunjukan Rasulullah SAW menjadi pengusaha sukses dalam kurun waktu yang lebih lama dari masa kerasulan Beliau dengan keadaan kaya raya dan harta yang berlimpah.

Tulisan menggiring kita pada pemahaman bagaimana Rasulullah SAW menjadi pebisnis yang terpercaya sehingga direkrut oleh pengusaha kaya Makkah, Khadijah ra binti Khuwailid. Yang selanjutnya dijalani dengan kesuksesan demi kesuksesan, sampai dengan pembayaran mahar Beliau ketika menikahi Khadijah ra binti Khuwailid berupa 20 ekor unta muda, 12 uqiyah emas (1 uqiyah sekitar 40 dirham syar’i; 1 dirham syar’i sekitar 3,770 gram). Menggambarkan jumlah yang sangat besar apabila dikonversikan dengan mata uang dan keadaan sekarang.

Sekali lagi imajinasi kita digiring ke arah kesuksesan, kekaya-rayaan bahkan kemewahan Beliau. Tolong dicatat itu tidak termasuk pengambaran “poligami”, karena kenyataan menggambarkan semasa itu beliau hanya memiliki satu orang istri, Khadijah ra binti Khuwailid saja.

Sampai disini, pertanyaan yang ada di dalam benak adalah, kehidupan Beliau semasa sebelum kerasulan ataukah kehidupan setelah masa kerasulan Beliau yang hendak kita teladani? Aku tinggalkan sejenak pertanyaan ini dan meneruskan penelusuran cerita tentang kekayaan Beliau.

Setelah Beliau menikahi Khadijah binti Khuwailid, maka dapat dibayangkan gabungan limpahan kekayaan yang Mereka miliki. Tentu saja logika akan menggiring ke pemahaman arah itu.

Tetapi pada masa kerasulan Beliau, bahkan masa menjelang kerasulan, saat beliau sering kali menyendiri pergi ke gua Hira, tidaklah menggambarkan kelimpahan kekaya-rayaan kehidupan beliau. Masa kerasulan dimana digambarkan harta Rasulullah adalah “Pertama fai’ (harta benda) yang diberikan kepada beliau dan kaum muslimin, tanpa melewati pertempuran. Harta ini misalnya didapat dari Bani Nazdir yang mengingkari pakta perdamaian Madinah. Mereka memohon jaminan keselamatan untuk meninggalkan Madinah dengan memberikan fai’. Kedua al-shafi, yaitu harta yang dipilih Rasulullah dari ghanimah (rampasan perang) sebelum dibagikan. Dan ketiga al-sahm, yaitu beberapa bagian diluar seperlima yang merupakan hak Rasulullah.” (halaman 26)

Walaupun tulisan masih menggambarkan kelimpahan harta kekayaan di masa kerasulan, seperti di halaman 24:

Hadiah dari Muqaiqis, penguasa Mesir, yang menghadiahkan tiga hamba sahaya, 20 potong baju pembesar, umamah (penutup kepala laki-laki), serta beberapa keledai dan kuda. Dari hadiah itu Muhammad SAW memberi Hatib bin Abi-Balta 100 dinar dan lima potong baju.

Al-Haris bin Syamr al-Ghassani juga pernah menghadiahkan kepada Muhammad SAW 100 gram emas dan sejumlah pakaian. Sebaliknya Rasulullah SAW pernah memberi hadiah kepada beberapa penguasa, seperti kepada gubernur Kisra di Yaman berupa emas dan perak. Beliau juga mempunyai kekayaan tanah di Fadak (daerah pemerintahan otonomi Yahudi di Hijaz) pemberian kaum Yahudi Fadak.

Tetapi kelanjutan tulisan itu menjadi sangat kontradiktif didalam logika berfikirku. Begini yang tertulis di halaman 27:

Muhammad SAW banyak menggunakan harta kekayaannya di jalan ALLAH, seperti menyantuni fakir miskin, anak yatim dan proyek sosial lain. Alibatnya harta kekayaannyapun sedikit demi sedikit berkurang. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan beliau tidak menyimpan kekayaan di rumah dan barang-barang yang ditemui di rumahnya hanya beberapa peralatan masak dan tikar untuk alas tidur.

Ketika kembali dari  Perang Hunain, Beliau juga disodori uang hasil rampasan perang. Beliau berkata “Letakkan uang itu di masjid”, dan jumlah uang itu yang terbanyak yang pernah diterimanya. Kemudian beliau shalat di masjid itu, tanpa menoleh kepada uang tadi. Ketika beliau selesai shalat, Beliau duduk dekat uang itu dan memberikannya kepada setiap orang yang memintanya. Kemudian baru Beliau berdiri setelah uang itu habis.

Berapa yang diambil oleh Rasulullah SAW, nol besar. Tidak ada bagian sesedikit apapun yang diambil oleh Rasulullah SAW untuk keperluan apapun. Tidak ada sedikitpun. Nol Besar!

Masih dari halaman itu:

Dari suatu riwayat diceritakan, suatu ketika datang seorang kepada Beliau meminta sesuatu.  Oleh Beliau diberilah orang itu kambing yang banyak. Saking banyaknya sampai memenuhi jalan antara dua bukit. Lalu orang itu kembali kepada kaumnya dan berkata. “Masuk Islam-lah kamu sekalian. Sesungguhnya Muhammad bila memberi, dia seperti orang yang tidak takut miskin”.

Muhammad SAW dikabarkan juga pernah menerima 90.000 dirham. Kemudian uang itu diletakkannya di atas tikar. Lalu uang itu Beliau bagi-bagikan kepada orang banyak dan Beliau tidak menolak  permintaan siapapun yang meminta, sampai uang itu habis.

Berapa sisa uang yang beliau ambil dan miliki?  Nol, habis, tidak ada sisa.

Tulisan ini masih juga ingin menggambarkan Rasulullah SAW bergelimang dengan harta dengan menutupnya di halaman 27 itu sebagai berikut:

Sebagai sosok figur teladan, memang Muhammad SAW mempunyai keunikan tersendiri mengenai kekayaan. Maka tidak adil bila sementara ini banyak dari pemuka agama hanya mengemukakan kesedarhanaan / kemiskinan Beliau, karena Muhammad SAW pernah pula menjadi enterpreneur sukses dengan kekayaan yang berlimpah.
Setelah mengetahui catatan sejarah Muhammad SAW dari sisi lain, keputusan ditangan anda. Apakah anda terpacu untuk mencontoh beliau menjadi orang miskin atau orang kaya?

Memang unik “kekayaan” Rasulullah SAW. Tetapi apabila kehidupan Rasulullah SAW yang sesederhana itu dikatakan kaya raya bergelimang harta menurutkan sangatlah keliru. Tidak ada sisa harta yang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada keturunan maupun umatnya berupa harta. Tidak seperti candi Borobudur, Prambanan atau Piramid warisan Firaun yang hidup jauh sebelum Rasulullah SAW. Kenapa tidak ada sisa warisan harta itu? Apakah keturunan Rasulullah SAW Yang Dimuliakan ALLAH SWT menghabiskan sisa harta warisan Rasulullah SAW?

Kalaupun ada orang yang saat ini berlaku seperti Rasulullah SAW dengan menghabiskan kekaya-rayaannya di jalan ALLAH, tidaklah mungkin dia bergelimang harta dan rasanya tidak mungkin pula saat ini orang memandangnya sebagai orang kaya, enterpreneur sukses atau konglomerat seperti judul tulisan diatas. Pastilah dia disebut orang sederhana yang bersahaja. Sebutan yang lebih beruntung untuk tidak dikatakan sok dermawan, sok miskin, fanatik, ekstrimis bahkan teroris. Karena kaya raya, enterpreneur sukses atau konglomerat selalu saja berhubungan dengan kepemilikan jumlah (banyak dan besarnya) properti, rumah mewah, kendaraan mewah dan seterusnya. Selalu saja dilambangkan dengan emas, berlian, saham, dolar dan seterusnya.

Menurut pendapatku Rasulullah SAW bersama nabi-nabi pendahulu lainnya yang kebanyakan mempunyai Bendahara untuk mengatur “harta” bukanlah manusia-manusia biasa yang menikmati gelimangan harta dan hidup kaya raya. Mungkin hanya Nabi Sulaiman AS saja lah yang memang seorang raja (bangsawan) yang dapat dikatakan kaya raya, tetapi bukanlah seorang konglomerat apalagi enterpreneur sukses.

Kaya raya hidup mewah bergelimang harta, menurut pendapatku bukanlah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mencontohkan kesederhanaan dan rasa tidak memiliki apalagi mencintai “dunia”. Dan miskin menurutku bukanlah sesuatu yang haram didalam Islam, seperti judul diatas. Sebagaimana kaya bukanlah sesuatu yang wajib atau haram di dalam Islam.

Beberapa tulisanku tentang kekayaan:

Kaya Atau Miskin
At-Takaatsur
Ilmu dan / atau Harta

Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

Comments»

1. abu daffa - October 28, 2009

saya jadi penasaran tulisan yang terkait dengan headline majalah ini, karena yang dibahas disini justru tema lainnya. kita tidak bisa menilai suatu masalah dengan informasi yang sepotong-sepotong bukan.

—————-

“ada baiknya membaca sendiri isi majalah tersebut, agar tidak menilai suatu masalah dengan informasi yang sepotong-sepotong, bukan?”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: