jump to navigation

Wejangan Abah December 17, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , ,
trackback

Koi Kolam Samping

Koi Kolam Samping

Abah, begitu biasa kakak sepupu memanggilnya. Diperkenalkan kepadaku hari Sabtu saat dia menghadiri resepsi pernikahan salah satu keponakanku. Pakaian celana panjang menggantung, baju gamis dan topi putih dengan tas terbuat dari kain biasa berwarna putih menjadi sangat terlihat terlalu sederhana dalam upacara adat perkawinan mewah itu.

Di ruang tamu gedung Balai Sudirman, banyak wejangan yang Abah sampaikan kepadaku. Semuanya mengenai manajemen hati. Salah satu yang masih menempel di kepalaku  adalah saat aku menyampaikan hal tulisanku “Miskin: Haram dalam Islam”, sementara menurut sepupuku Abah berpaham “Kaya itu wajib dalam Islam”. Sesuatu yang sepintas hampir sama. Itu pula mengapa aku penasaran menanyakan pendapatnya.

Kalau Miskin itu Haram dalam Islam, dia memang tidak sependapat. Tetapi ternyata “kaya” seperti apa yang wajib didalam Islam itu memang tidak seperti “kaya” yang kita lihat di sekeliling kita. Dicontohkan bahwa Rasulullah SAW seolah memiliki banyak sekali harta yang tersimpan di ATM Beliau di “atas langit” (begitu diumpamakan). Setiap beliau memerlukan, tinggal “pencet PIN” maka “ALLAH turunkan dari langit” (perumpamaan) apa yang hendak Rasulullah SAW belanjakan (pasti) di jalan ALLAH. Jadi Rasulullah memang “kaya” dalam arti banyak “membelanjakan hartanya dijalan ALLAH”. Membeli binatang ternak untuk di sembelih sebagai qurban, membeli baju besi untuk berperang dan seterusnya. Jadi salah apabila “kaya”-nya Rasulullah SAW tersebut dibayangkan dengan memiliki dan menumpuk hartanya. Faktanya saat-saat terakhir Beliau meminta agar sisa uang yang dimilikinya dipakai untuk membayar (sedikit) hutang Beliau. Tidak ada keberlimpahan harta dan tidak ada kemewahan dari Rasulullah SAW.

Pesan Abah; “Kalau sedang menanjak, sukses, janganlah dipamerkan (diperlihatkan), karena akan menebar kebencian. Demikian pula jika sedang terpuruk jangan pula diceritakan, karena akan menyebar duka”. Kalau punya banyak uang, simpanlah di ATM dan belanjakanlah di jalan ALLAH. Bukan dibelanjakan untuk mengangkat status sosial atau malah sengaja dipamer-pamerkan. Seolah ALLAH begitu mencintai sehingga melimpahkan harta yang banyak untuk diperlihatkan (dipamerkan).

Aku jadi semakin yakin bahwa gambaran pembayaran mahar Rasulullah SAW saat beliau menikahi Khadijah ra binti Khuwailid, berupa 20 ekor unta muda, 12 uqiyah emas (1 uqiyah sekitar 40 dirham syar’i; 1 dirham syar’i sekitar 3,770 gram), bukanlah berasal dari harta beliau yang berlimpah ruah. Sangat mungkin semua itu berupa hadiah dari para sahabat beliau yang kaya, sebagai ungkapan turut berbahagia. Semacam kado atau amplop perkawinan jaman sekarang. Aku sangat yakin bahwa Rasulullah SAW dijaga oleh ALLAH dari celah-celah fitnah hidup mewah semacam ini. Sebagaimana fitnah-fitnah lain semacam Rasulullah SAW digambarkan sebagai orang tua yang menikahi Aisyah ra seorang anak kecil berusia 7 tahun. Fitnah yang sangat tidak masuk akal, paling tidak bagi akalku. Faktanya Rasulullah SAW menikahi Aisyah ra. pada usia yang cukup dewasa. Bukan anak kecil 7, 8 atau 9 tahun.

Keesokan harinya, hari Minggu jam setengah enam pagi, telpon rumahku berdering. Menyampaikan pesan bahwa Abah ingin sarapan pagi di rumahku, dan sebentar lagi sudah akan sampai di rumahku. Ditemani kakak-kakak dan ponakanku, mereka aku suguhi pecel madiun dan nasi liwet. Makanan yang gampang didapat disekitar rumahku.

Saat sarapan, sempat Abah berpesan menanggapi bunga yang terlihat di samping rumah. “Semakin harmonis isi rumah ini, maka akan semakin banyak bunga yang akan mekar. Karena sesungguhnya mereka hidup dan meresponse lingkungannya. Jadi dari kitalah (sambil menunjuk dadanya) bunga-bunga itu kita pancing keluar”. Begitu ujarnya kepadaku yang duduk disampingnya.

Sambil bergegas keluar rumah menuju mobil setelah selesai sarapan, Abah terus berucap “Indah sekali……indah sekali”, sambil tersenyum kepadaku. Walau aku tidak mengerti apa arti dari ucapannya di pagi yang sangat cerah itu, aku membalas dengan “Matur nuwun rawuh ipun” (terima kasih atas kunjungannya). Mobilpun meluncur ke Bandara untuk mengejar pesawat yang akan membawanya ke Yogyakarta untuk pulang ke Pondok-nya di Prambanan. Tempat ditepi bukit yang tenang, demikian Abah menggambarkan.

“Kalau ada waktu, mampir ke Pondok saya di Prambanan”, ujar Abah mengulang-ulang undangannya. “Insya ALLAH Bah”, sahutku sungguh-sungguh.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: