jump to navigation

Panggilan Itu December 31, 2008

Posted by merenung in Kehidupan, Umum.
Tags: , , ,
trackback

Seorang kawan sekelas waktu SMA meneruskan email di milis berisikan cerita seseorang yang menurutku baik untuk dijadikan pelajaran. Aku kutip seluruh tulisan secara utuh, baru kemudian aku tambahkan komentar perenunganku.

<<<<<==========>>>>>

*Judul Tulisan:* Panggilan Allah Hanya 3x saja

Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Mekah…….aku bertanya pada Ibu Yanti.
“Ibu, kataku, ada cerita apa yang menarik dari Umrah…?” Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah. Dan Ibu Yanti, memberikan Tausyiahnya. Ibu Yanti adalah pemilik Maknah Tour Travel dimana saya bergabung untuk Umrah di bulan Juli 2007 yang lalu. Kebetulan umrahku dimulai di Madinah dulu selama 4 hari, baru ke Mekah. Tujuannya adalah mendapatkan moment Malam Jumat di depan Kabah. Jadi aku punya kesempatan untuk bertanya tentang Umrah.

Ibu Yanti berkata…”Shinta, Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup..”
Keningku berkerut……..”Sedikit sekali Allah memanggil kita..?”
Ibu Yanti tersenyum. “Iya, tahu tidak apa saja 3 panggilan itu..?”
Saya menggelengkan kepala.

“Panggilan pertama adalah Adzan”, ujar Ibu Yanti.
“Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar.
Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak “cepat marah” akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas.
Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Adzan-Nya atau tidak Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti”.
Saya terpekur…..mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih melambatkan sholat karena meeting lah, mengajar lah, dan lain lain.

Masya Allah………

Ibu Yanti melanjutkan, “Shinta, Panggilan yang kedua adalah panggilan Umrah/Haji. Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya “bergiliran”.
Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalannya bermacam-macam. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak berencana malah bisa pergi, ada yang memang berencana dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafadzkan “Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan”,
sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allahyang ke dua. Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali. Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu”.
Mata saya semakin berkaca-kaca………Subhanallah…….saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya
perhitungkan…….Alhamdulillah…

“Dan panggilan ke-3”, lanjut Bu Yanti, “adalah KEMATIAN.
Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebanyakan kasus,
Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan.
Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu Shinta, manfaatkan waktumu sebaik-baiknya…
Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah………..Insya Allah syurga adalah balasannya…..”

Mata saya basah di dalam Masjid Nabawi , saya sujud bertaubat pada Allah karena kelalaian saya dalam menjawab panggilanNya…..
Kala itu hati saya makin yakin akan kebesaranNya, kasih sayangNya dan dengan semangat menyala-nyala, saya mengenakan baju Ihram dan  berniat……… Aku menjawab panggilan UmrahMu, ya Allah, Tuhan Semesta Alam………..

<<<<<<==========>>>>>

tigapanggilan

Jika tidak disamarkan, kuat diduga bahwa yang menulis adalah seorang wanita bernama Shinta. Nama yang mungkin diambil dari seorang putri cerita wayang Ramayana.

Mungkin memang hanya ada 3 pula jenis manusia yang dipanggil.

Tuli (tidak mendengar);
Azan, haji dan mati itu ada sejak jaman dulu. Mati itu sejak Nabi Adam AS, haji itu sejak jaman Ibrahim AS dan azan itu sejak Rasulullah Muhammad SAW.
Jadi kalau tingkah polah kehidupannya tidak mencerminkan sebagai manusia yang mendengarkan ke tiga panggilan itu, maka sebenarnya manusia ini telah “tuli”, karena tidak “mendengar” kala dirinya “dipanggil”.

Abai (dengar tapi tidak bersegera);
Ada jenis lain yang mendengar panggilan itu tetapi mengabaikannya. Tunda sholat karena sedang sibuk bekerja, tunda haji karena sedang menabung beli mobil baru dan sayangnya panggilan kematian tidak dapat ditunda-tunda sementara bekal untuk menghadapinya belum juga cukup terkumpul.

Hati-hati (selalu menunggu panggilan);
Ada jenis manusia yang menunggu waktu panggilan. Bergegas ke masjid menjelang waktu sholat berharap ganjaran pahala dari ALLAH. Bersiap-siap berangkat haji, seolah-olah ALLAH segera akan mencukupkan hartanya untuk bekal. Dan selalu menyegerakan semua urusan amal shaleh seakan esok hari sudah akan mati.

Kedua jenis manusia (tuli dan abai) mungkin akan berdalih dengan berbagai macam alasan, mengapa tidak bersegera memenuhi panggilan. Rasanya kedua jenis manusia ini akan bersegera memenuhi panggilan, manakala yang memanggil adalah manusia (presiden-nya, atasan-nya, kekasih hati-nya dst). Sementara panggilan ALLAH yang selama ini tidak pernah berhenti mencurahkan Rahman dan Rahim-Nya justru diabaikan atau tidak didengar sama sekali.

Surga Dunia di New York

Semoga ALLAH membukakan hati kita, manusia yang abai dan membukakan telinga manusia yang tuli.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: