jump to navigation

Ringkikan Tawa Itu January 2, 2009

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: , , ,
trackback

Malam Jum’at saat kumpul dengan Ibunda, adik dan anak perempuanku di Cisarua, seperti biasa cerita-cerita berkisar mahluk-mahluk penghuni villa yang kurang nyaman ditatap. Lampu yang tadinya pantang mati mulai mati hidup justru saat sound system dan organ tunggal dimatikan. Gelap gulita tentu menambah suasana horor luasnya taman di depan studio mini villa itu.

Cisarua

Cisarua

Adikku bercerita saat beberapa waktu lalu dijemput suaminya di kantornya, yang memang sudah dikenal dengan berbagai macam gangguan penampakan dan suara ringkikan tawa. Saat itu sudah jam 17:15 di dalam mobil, iparku teringat belum mengerjakan solat Asr. Meneruskan perjalanan yang pasti akan melewatkan waktu yang sempit itu, membuat dia memilih untuk mengerjakannya di mushala yang terletak di basement gedung. Ruang kecil di sudut parkir basement biasanya dipakai para sopir menjalankan ibadah wajib di sela-sela waktu kerja mereka.

Sementara iparku mengerjakan sholat Asr-nya, adikku menunggu di mobil. Sedikit lama kemudian, iparku kembali ke dalam mobil sambil ngomel-ngomel; “Sialan……sialan……., kurang ajar…….”, gumannya. Adiku tentu saja bingung, sambil terus bartanya penasaran; “Ada apa sih……? Kenapa……?”, tanyanya.

Iparku bercerita, setelah dia mengambil air wudhu dan masuk kedalam mushala, ternyata mushala itu kosong. Dan tentu saja dia sholat sendirian di dalam mushala. Mengerjakan shalat dengan penerangan temaram di tempat dengan cerita-cerita seram memang agak mengurangi konsentrasi. Pintu mushala berderit sedikit membuyarkan keheningan, disadari seseorang masuk kedalam mushala. Iparku memejamkan mata untuk mengembalikan konsentrasi yang agak terganggu.

Tiba-tiba terdengar suara ringkikan tawa dibelakangnya memecah keheningan membangunkan suasanya horor. Ringkikan tawa terus menerus seolah enggan berhenti. Sesaat iparku mengucap salam menoleh ke kanan dan ke kiri, di sudut pandangan mata terlihat seseorang masih mengerjakan shalat agak sedikit dibelakang sampingnya. Iparku melanjutkan dengan membaca zikr dan do’a untuk menenangkan debar jantungnya, sambil menunggu orang yang sedang shalat dibelakangnya selesai. Beberapa saat kemudian, iparku menoleh ke belakang dan mengulurkan tangannya untuk menyalami laki-laki yang duduk setelah menyelesaikan shalatnya, sambil bertanya; “Mas denger suara kuntilanak tadi…”.

“Iya…., itu bunyi hape saya”, ujarnya ringan sambil tersenyum.

Iparku berdiri dan beranjak keluar mushala dan kembali ke mobil sambil terus mengomel.
Ternyata itu suara dering handphone orang yang lupa mematikannya saat shalat.

Handphone memang benda yang berguna, tapi berbunyi di tempat ibadah apalagi dengan bunyi ringkikn tawa seperti itu, tentu akan sangat mengganggu. Apalagi suasana seram sudah ada di dalam benak. Karenanya, selalu ingat mematikan handphone sebelum menjalankan shalat, walaupun sholat sendiri di rumah (sedang tidak berjamaah di masjid / mushala).

Cerita itu tentu saja membuyarkan suasana seram malam Jum’at dan mati hidupnya lampu villa di Cisarua.
Keponakan-keponakanku mulai menyalakan kembang api sisa tahun baru kemarin.
Semoga tahun 2009 ini akan menjadi semakin cerah dan penuh berkah.

Day Two in Cisarua

Day Two in Cisarua

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: