jump to navigation

Genk Sekolah? Mau Kemana? January 30, 2009

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , , ,
trackback

Hari itu, Jum’at 16 Januari 2009. Ba’da magrib panggilan masuk cellphone saat itu aku menunggu akan pijat refleksi. Suara istriku diseberang sana memberitahu kalau anak lelaki-ku (anak nomor dua) ditangkap polisi. Semula aku agak terkejut, karena penyebabnya adalah tawuran anak sekolah. Tempat tawuranpun cukup jauh dari lokasi sekolah anakku. Tentu saja persepsi menyeret ke arah anakku yang salah karena menyerang anak sekolah lain. Walau agak gundah, ternyata istriku telah datang dan menyelesaikan proses di kantor polisi itu, hingga anakku dilepaskan dan diperbolehkan pulang. Tiga orang guru sekolah dan keempat orang tua murid kawan dari anakku ikut dalam proses itu.

Sampai di rumah malam itu aku sudah sempat mengatur emosi dan memutuskan untuk tidak marah. Lagi pula anakku tidak ditahan oleh polisi. Aku tanyakan apakah sempat terjadi perkelahian, ternyata ceritanya agak lucu. Dan untuk itu tidak habis-habisnya aku mensyukuri apa yang terjadi. Peristiwa itu sungguh sangat membantu aku dan bermanfaat bagi anakku.

Konon dari cerita yang aku terima, siang itu anakku menerima telepon dari salah seorang temannya yang memberitahu bahwa dia dikeroyok oleh anak sekolah lain. Kawan anakku itu, bersama kawan-kawan lainnya sedang dalam perjalanan dengan kendaraan umum untuk nonton pertandingan basket antar sekolah. Entah mengapa seperti sudah tradisi, sepanjang jalur perjalanan kendaraan umum terdapat titik-titik temu ajang tawuran. Di jalur yang dilalui memang terdapat beberapa sekolah (SMA) yang seolah enggan membiarkan anak sekolah lain lewat tanpa gangguan. Sampai sekarangpun apa yang menjadi pemicu perkelahian itu tidaklah jelas.

Mendengar berita seperti itu anakku langsung berinisiatif menolong dengan mengajak empat orang kawan lainnya. Berlima mereka berangkat menggunakan microbus umum menuju lokasi. Turun dari microbus hp kawan anakku berdering, ternyata anak yang tadi menelpon memberi tahu bahwa perkelahian sudah selesai dan dia sedang diantar polisi pulang ke rumah. Batal membantu kawannya, mereka menuju mini-market untuk membeli minuman. Dengan alasan lapar dan belum makan, mereka berjalan mencari warung untuk mengisi perut. Sementara itu seorang polisi sedang berkeliling menyisir mengendarai sepeda motor, mungkin sudah prosedur standar pemeriksaan setelah kejadian seperti siang itu.

Kelima anak yang sedang berjalan ini tentu saja menarik perhatian satu orang polisi yang sedang bertugas menyisir. Berhenti dan bertanya darimana asal sekolah, kelima anak yang tidak punya pikiran macam-macam ini menjawab spontan nama asal sekolah mereka. Tentu saja ini menjadi semacam ‘pekerjaan’ bagi seorang polisi on duty seperti ini. Bukankah ini bisa menjadi penambah bahan prestasi pendongkrak pangkat. Bukankah sudah menjadi tugas mereka untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Singkatnya kelima anak ini dibawa ke kantor polisi dekat lokasi untuk diproses.

Sekolah asal dikontak dan kelima orang tua murid dipanggil ke kantor polisi untuk membuat berita acara. Tuduhan yang dikenakan adalah ‘terlibat tawuran’. Tuduhan yang sangat aneh bagi orang awam, karena kelima anak ini bertemu pandang dengan musuhpun tidak. Apalagi bersentuhan dan berkelagi dengan mereka. Tuduhan yang sangat tidak masuk akal, tetapi harus diterima oleh semua pihak yang berada di kantor polisi itu. Konon semua sudah lelah berdebat, sementara polisi hanya akan melepaskan mereka jika berita acara yang dibuat ditanda tangani. Untuk ‘formalitas’ katanya.

Cerita itu masih belum membuatku percaya polisi gegabah menangkap mereka. Aku katakan tidak mungkin kepada anakku, bahwa polisi tidak akan melakukan itu. Barulah anakku mengaku bahwa di dalam tas-nya ditemukan gembok yang terikat di kepala ikat pinggang kulitnya. Seorang kawan lain telah buru-buru membuang senjatanya. Maklum polisi hanya satu orang, anakku tertangkap membawa senjata karena digeledah duluan. Saat aku tanya mengapa dia membawa barang semacam itu, dia menjawab untuk jaga-jaga. Jawaban standar yang konyol memang. Membantu kawan yang dikeroyok dan datang dengan tangan kosong tentu aneh, tetapi membawa senjata semacam itu memanng mungkin sudah cukup untuk mengatakan mereka bermaksud berkelahi.

Keesokan harinya, Sabtu 17 Januari 2009, sore itu aku melihat amplop panggilan dari sekolah sudah ada di rumah. Senin pagi aku diminta datang ke sekolah dengan hal undangan ‘Pelanggaran Tata Tertib’. Hal yang fatal dengan sangsi dikeluarkan dari sekolah. Walaupun aku adalah salah seorang alumni sekolah itu, tapi pengenaan pasal pelanggaran tata tertib membuat aku harus berbesar hati untuk menerima kenyataan, jika anakku harus dikeluarkan dari sekolahnya. Aku sampaikan kepada istriku dan anakku untuk siap menerima kenyataan dan mulai berfikir kemana dan bagaimana akan pindah.

Senin 19 Januari 2009, jam 08:00 aku sampai di sekolah dan sudah ada dua orang ibu yang datang terlebih dahulu menunggu proses. Kami diminta menunggu di ruang BP. Sementara bercakap-cakap dan menunggu kedatangan orang tua murid lainnya, dari mulut kedua orang tua kawanku terasa kesan seolah menyalahkan anakku yang membawa senjata di dalam tas sekolahnya. Kesan itu cukup kentara dengan menanyakan apakah aku mengetahui anakku mempunyai senjata itu. Seolah ingin mengatakan aku kurang mengawasi anakku sampai bisa menyimpan benda / senjata itu di dalam kamar atau rumahku. Beberapa pernyataan aku coba hentikan dengan menyampaikan, bahwa aku mengerti dan menerima kalau anakku mereka anggap biang kerok tertangkapnya anak-anak mereka.

Pagi itu Kapolda datang ke sekolah untuk menanyakan tindak lanjut dari ‘berita acara tawuran’ yang masuk dari salah satu ranting wilayah kewenangannya. Mungkin memang pagi itu Kapolda tidak ada acara lain hingga sempat datang mengurusi lima anak yang ‘terproses verbal’ tawuran, walau bertemu pandang dengan lawan apalagi berkelahipun tidak. Sangat membuang waktu untuk acara resmi seorang Kapolda, entahlah kalau Kapolda itu ternyata alumnus sekolah atau punya anak yang bersekolah di SMA itu. Tentu kedatangannya bukan lagi resmi, tetapi sudah agak pribadi.

Ternyata kami dipanggil satu per satu untuk menghadap Kepala Sekolah, Wakilnya, Wali Kelas murid yang bersangkutan dan beberapa guru Kesiswaan. Saat ibu yang pertama kembali dan memanggil orang tua berikutnya, kami mengetahui bahwa ternyata ibu itu sudah menanda tangani surat pernyataan skorsing selama satu bulan. Suatu pengenaan sangsi yang agak tergesa-gesa dan cukup gegabah. Karena ternyata orang tua murid yang terlibat tawuran, menjadi korban dan diantar polisi pulang ke rumah, anak yang menelpon dan menjadi awal segala kejadian yang melibatkan kelima anak ini tidak ada ditempat. Belakangan menjadi sangat mengherankan bahwa surat panggilan kepada orang tua anak ini-pun belum dilayangkan oleh sekolah. Sekolah seolah ingin cepat selesai dan cuci tangan dari ‘catatan’ polisi yang membukukan proses verbal kelima anak ini dengan menjatuhkan sangsi skorsing. Tanpa mengetahui langsung dari anak yang terlibat tawuran dan memproses dengan orang tua anak yang memang tawuran (bonyok-bonyok), mereka dengan mudah menjatuhkan sangsi kepada anak-anak konyol yang sedang apes berada di tempat dan waktu yang salah.

Singkatnya, kami, orang tua yang masih di luar ruang kantor Kepala Sekolah meminta masuk dan bertemu bersama-sama agar tidak terlalu lama mambuang waktu hanya untuk menerima sangsi sepihak yang dalam pandanganku kurang bijaksana karena tidak melibatkan semua pihak terkait secara menyeluruh. Alhasil setelah bicara panjang lebar yang intinya sekolah hanya berdalih dengan senjata Tata Tertib yang telah ditanda tangani punya satu jalan yaitu mengeluarkan anak dari sekolah. Dengan dalih ini, tentu sekolah menjadi sangat terlihat bijaksana apabila sangsi yang dikenakan tidak sampai mengeluarkan dari sekolah. Apalagi skorsing, walau mungkin sangsi itu akan memberatkan dan dapat berakibat anak tidak naik kelas. Logika yang sangat keliru dan sangat mempermudah persoalan. Bukan logika seorang pendidik.

Belakangan, SMA ini terkenal dengan genk sekolah yang dua tahun lalu beritanya muncul di semua media cetak dan elektronik karena kasus kekerasan. Search di google dengan mudah menemukan cerita-cerita sepak terjang mereka. Anggota genk ini menganiaya seorang anggota juniornya hingga cacat (patah tangan ?). Suatu tindakan yang sangat biadab untuk pelajar seusia mereka. Mungkin beberapa alumnus yang menjadi anggota genk itu membantah kekerasan dan perploncoan, tetapi faktanya itu turun-temurun terjadi. Hanya saja, semua junior tidak berani buka mulut untuk cerita. Ini pula yang mendasari guru tidak bertindak apa-apa, dengan dalih kurang bukti.

Jika agak jeli, sebagai contoh, suatu perhelatan yang menelan biaya setengah milyar (mungkin lebih) bisa diselenggarakan oleh anak-anak SMA itu tanpa restu dari sekolah (artinya sekolah tidak mengetahui dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan acara itu), dapat dibayangkan cara pengumpulan dananya. Semua serba memaksa. Anak-anak junior sekolah ini dipaksa menjajakan bunga mawar seharga Rp. 25.000,- oleh seniornya dan apabila target tidak tercapai, mereka harus nombok dengan uang mereka sendiri. Konon ini budaya turun-temurun sejak budaya nge-genk mulai eksis. Budaya tekan dan paksa. Apakah tidak terlihat mencurigakan bagi guru, bagaimana pengumpulan dana dengan menjual mawar seperti ini. Sampai hari ini, masih ada sisa mawar di kulkas rumahku walau acara itu sudah berlangsung lama. Mawar bekas jualan anakku yang ditebusnya dengan uang saku. Suatu kegiatan penindasan yang membuang waktu dan biaya.

Anakku patah arang. Walau hanya di-skors seminggu, tapi dia sudah tidak mau lagi kembali ke sekolah. Selalu saja kakak-kakak kelas yang menjadi alasan utama mengapa dia enggan kembali ke sekolah itu. Sekolah dimana aku dan semua adik-adikku menimba ilmu dengan rasa suka cita. Sungguh, itu sekolah tempat aku dan adik-adikku belajar. Bahkan suami dan istri adik-adikku pun lulusan sekolah itu. Betapa sekolah itu menyenangkan bagi kami. Tetapi itu dulu. Sekarang, bisa ditanyakan kepada pada junior sekolah itu. Batapa mereka tertekan dengan tingkah polah kakak-kakak kelas yang terbiarkan secara turun temurun. Alih-alih menindak, guru malah cuci tangan dengan dalih tidak ada bukti. Suatu tindakan yang kurang cerdas yang diturunkan kepada anak-anak didik mereka. Pantas di negeri ini sangat sulit menangkap koruptor walau peringkat korupsi kita termasuk yang tertinggi di dunia. Ternyata semua karena sulit mencari bukti.

Apa yang terjadi dengan anak-anak yang tawuran itu. Penyebab munculnya persoalan ini. Satu orang anak apes  yang “digebugin” dan sempat diproses polisi (artinya terbukti tawuran), dikenakan sangsi keluar dari sekolah. Gampang sekali memang menjalankan sangsi yang sudah tertulis. Bagaimana anak-anak lainnya yang juga ikut tawuran? Kembali, mungkin tidak ada bukti cukup, sehingga tidak ada tindakan konkret. Budaya itu akan terus berlanjut. Entah siapa yang akan menjadi korban dan entah sampai kapan. Entahlah.

Comments»

1. Ming - February 3, 2009

Turut prihatin, Pak. Terutama karena akibat yang ditanggung sang putra: kena skorsing dan putus arang kembali ke sekolah yang sama.

Tapi, mungkin baik juga keinginan sang putra. Rasanya lebih baik ndak sekolah yang dipimpin oleh ‘pendidik’ yang cari gampang dan tidak menilik kata nurani.

Semoga hikmah kejadian ini tersaring lepas dari kesal, sebal, jengkel dan marah.

Terima kasih atas atensinya pak. Memang saya menyadari ternyata banyak kebaikan dibalik kejadian itu. Toh pelajaran itu tidak dapat dinilai dengan materi. Jadi hati ini sebenarnya bersyukur, walau datangnya belakangan.

2. rojab - November 26, 2010

wah…jangan trerlalu memvonis tindakan guru….semua ada proses dan pertimbangan..kadang orang tua juga tidak kooperatif jika diajak sharing tentang permasalahan anaknya…dan selalu cenderung menyalahkan guru jika ada permasalahan


terima kasih sudah mampir, mungkin saja saya yang keliru.
mudah-mudahan bangsa ini semakin maju dengan bimbingan para guru-guru kita.

3. rojab - November 26, 2010

http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/14/kita-adalah-guru-buat-mereka/

bagaimana pendapat anda tentang kasus seperti yang diilustrasikan di blog diatas


Terima kasih.

Sebenarnya fokus saya adalah pada, bagaimana guru menangani muridnya di sekolah.
Selama itu di lingkungan sekolah (dan menyangkut nama sekolah), maka guru lah yang bertanggung jawab.
Jadi pada tulisan di http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/14/kita-adalah-guru-buat-mereka/ jelas orang tua lah yang keliru. Guru menegakkan aturan sekolah, sementara orang tua tidak (atau belum bisa / mau mengerti).

Tetapi pada kasus yang saya tulis, saya mendapati guru lepas tangan justru pada lingkungan sekolah, aturan sekolah dan pengatas namaan sekolah. Lalu siapa yang disuruh bertanggung jawab? Siapa yang harus membantu, kalu guru lepas tangan pada budaya “anak kelas satu nggak boleh masuk kantin”, yang ditetapkan oleh anak kelas tiga, misalnya. Dan banyak lagi aturan junior senior lainnya.

Saya tidak ingin menyalahkan kegagalan murid kepada guru, karena memang banyak unsur diluar guru. Orang tua, lingkungan, pergaulan dan seterusnya, sampai ketetapan ALLAH sebagai takdir mutlaknya. Jadi saya memang tidak sedang menyalahkan guru atas para koruptor, penipu, penjual diri walau mereka semua terpelajar (oleh para guru tentunya). Tetapi menurut saya, guru tidak bisa lepas tangan atas lingkungan dalam sekolah, aturan sekolah dan segala sesuatu yang terkait dengan sekolah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: