jump to navigation

Demokrasi = Agama Baru February 7, 2009

Posted by merenung in Kehidupan, Serba-serbi, Umum.
Tags: , , ,
trackback

Demokrasi. Kata yang sangat sering dipakai dan seolah menjadi kunci peradaban manusia modern. Jika tidak demokratis maka otomatis akan menjadi manusia primitif bahkan purba. Entah mengapa peradaban manusia menjadi pemuja demokrasi, padahal boleh dikatakan bangsa ini sangatlah kuat memegang budaya. Budaya yang kemudian dituangkan dalam kalimat padat sederhana yang disebut Pancasila. Entah bangsa mana di jagat ini yang punya sila-sila macam bangsa kita.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

(bener nggak ya ….sudah lama juga tidak pernah membaca sila-sila ini lagi)

Kalimat yang mungkin dirangkai setelah dipikir masak-masak oleh pemikir bangsa ini yang secara seenaknya diterjemahkan sebagai demokrasi. Kata yang datang dari bangsa lain yang konon mereka sebut suara tuhan. Entah tuhan yang mana yang mereka maksud, tapi bangsa ini terlanjur percaya bahwa tuhan itu cuma satu, yaitu ALLAH itu sendiri. Lalu jadilah kemudian demokrasi menjadi suara yang mutlak harus dituruti, harus menang, harus memimpin. Karena suara tuhan sudah pasti benar.

Kaji Terus "Berjuang" Untuk Menegakkan Demokrasi = Menang (foto from Detik)

Kaji Terus "Berjuang" Untuk Menegakkan Demokrasi = Menang (foto from Detik)

Budaya yang penting menang ini pula yang menjadikan bangsa ini menjadi abai dengan kebenaran. Untuk apa benar jika kalah. Lebih baik salah tapi menang. Jikapun akhirnya karus kalah, anehnya para atlet demokrasi ini jarang yang sportif. Menuduh lawan bermain curang, meminta pertandingan ulang, bahkan kampiun demokrasi macam Amerika yang dipuja sebagai nabi bisa mengeluarkan fatwa kalah bagi Hamas yang nyata-nyata menang pemilu di Palestina. Suatu tindakan pengecut yang juga ditiru oleh umat penganut demokratis.

Walau Hamas Menang = Tetap Kalah; Penganut Demokrasi Nurut Nabi Amerika

Walau Hamas Menang = Tetap Kalah; Penganut Demokrasi Nurut Nabi Amerika

Beberapa hari lalu, seorang ketua lembaga perwakilan daerah menjadi korban pertandingan demokrasi. Kelompok pemuja kemenangan tidak sabar meminta pengukuhan tuntutan mereka kepada sang ketua. Mereka mengejar, merangsek, mengobrak-abrik ruang sidang demokrasi sekaligus melancarkan pencabutan nyawa sang ketua. Pastilah semua atlet demokrasi yang ikut didalam permainan petak umpet demokrasi yang memakan korban itu akan berdalih dan tidak mau dicap sebagai pembunuh. Mereka sekedar mengikuti aturan permainan dan malaikat pencabut nyawalah yang menyebabkan sang ketua mangkat. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Itulah pertandingan menang kalah. Pertandingan yang abai terhadap benar salah. Yang menang menjadi benar dan yang kalah pastilah salah. Entah siapa yang seharusnya peduli terhadap femonena demokrasi gila ini.

Korban Jatuh - Fenomena Ritual Agama Baru = Demokrasi

Korban Jatuh - Fenomena Ritual Agama Baru = Demokrasi

Kasihan bangsa ini. Kasihan pendiri bangsa ini. Mungkin cita-cita mereka terlalu muluk untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah bangsa ini sebagai pemuja tuhan, pengikut nabi Amerika / Barat, pengamal kitab demokrasi dengan ritual jihad demonstrasi. Toh tawaf dan lempar jamarat, yang merupakan rukun haji umat muslim pun kadang juga memakan korban. Pantaslah kalau demokrasi ini sudah menjadi agama baru bangsa ini. Siapa yang bisa menghindar apalagi menolaknya?

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: