jump to navigation

Aliran Relatifitas February 8, 2009

Posted by merenung in Kehidupan, Simple, Umum.
Tags: , ,
trackback

Penganut aliran relatifitas umumnya gemar memakai logika. Sayang menurutku logika mereka justru menyesatkan. Bahwa ALLAH jua yang menjadi pusat segalanya, mungkin umumnya sepakat. Bahwa hanya ALLAH yang mutlak dan yang lainnya relatif dapat menjadi penyesat logika.

Banyak dari mereka yang berpendapat, bahwa hitungan bilangan pun merupakan kesepakatan. Contoh sederhana, mereka berpendapat bahwa 1 + 1 = 2 (satu ditambah satu sama dengan dua) adalah merupakan kesepakatan. Sehingga jika semua mahluk seluruh jagad raya (termasuk manusia dan mahluk yang gaib bagi manusia) menyatakan bahwa 1 + 1 = 3 (satu tambah satu sama dengan tiga), maka 1 + 1 = 3 pun menjadi sebuah kebenaran. Dan 1 + 1 = 2 menjadi sesuatu yang keliru. Semua menjadi relatif terhadap zat yang mutlak yaitu ALLAH SWT.

Akibat paham ini, maka tanpa disadari, semua yang tersangkut dengan ALLAH menjadi lepas tidak terkait lagi. Umumnya manusia memilih yang mereka kuasai menjadi hal yang terlepas dari ALLAH. Mereka pikir sudah merebutnya. Tubuh sudah lepas dari ALLAH, ilmu lepas dari ALLAH, perkawinan, perniagaan, pemerintahan, politik, kesehatan dan seterusnya. Semua terlepas dari ALLAH. Untuk hal tertentu mereka menyebutnya sekular, modern, maju, liberal atau apa sajalah. Karena mereka merasa mampu mengendalikannya. Mereka cuma menyerah dengan perihal matahari yang terbit dari Timur dan tenggelam di Barat, gerhana bulan, gempa bumi, tsunami, kematian dan hal-hal dimana mereka memang belum dapat akal untuk mengendalikannya. Bagaimana tidak, membuat binatang bahkan manusia dengan cara cloning mereka sudah dapat lakukan, seakan ALLAH memang sudah tidak diperlukan kecuali mengatur agar alam semesta ini agar sekedar tidak bertubrukan. Sebenarnya apa yang tidak berada di dalam genggaman ALLAH?

Yang lebih menyedihkan, orang yang mengaku muslim / muslimah pun sudah mulai menganggap Al Qur’an bukanlah hukum ALLAH yang mutlak. Bahkan sebagian menganggap Al Qur’an menjadi relatif (hanya karena penafsiran mereka berbeda-beda). Perintah shalat yang disertai petunjuk untuk mengikuti bagaimana cara Rasulullah SAW shalat bisa mereka bolak-balik menjadi “asal ingat ALLAH” lalu tak perlu repot-repot melakukannya. Mengerjakan shalat menjadi tidak wajib bagi mereka.  Hukum waris yang lebih tegas bilangannya di dalam Al Qur’an pun diganti dengan mengikuti keadilan manusia. Perniagaan penuh dengan penindasan. Politik penuh naluri kebinatangan / hukum rimba (siapa kuat, dia yang menang). Padahal ALLAH telah ciptakan jalan-jalan kompromi, darurat yang juga pasti, seperti jama’ qasar, waqaf, hibah, bagi hasil, poligami dan seterusnya.

Seandainya mahluk (nyata dan gaib) seluruh dunia sepakat 1 + 1 = 3 (satu tambah satu sama dengan tiga) apakah mereka bisa ciptakan air dari unsur H + O + H = H3O atau oksigen dari O + O = O3. Mungkin mereka lupa bahwa kalau ALLAH SWT itu mutlak maka Al Qur’an juga mutlak dan tentunya hukum ALLAH itu mutlak. Entah mereka setuju atau tidak.

Toh kalau pendapatku ini salah, maka pendapat mereka juga otomatis salah. Wa ALLAH a’lam.

Comments»

1. Jaruo - June 16, 2009

Salam… Nalar yang nanar kini makin trend di masyarakat… Kian tampak pengkhianatan pada sistem dan kesepakatan… Mungkin krn situasi yg makin bingung ini hanya insting yg saya andalkan saat menulis tanggapan ini… Maaf jika tdk berkenan Trimakasih…

2. Andy - November 2, 2009

Salam….

saya kira yg Anda bicarakan teori relativitas einsten.

===========

Ma’af kalo ternyata bukan teori yang dimaksud.
Salam.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: