jump to navigation

Demokrasi Tanpa Sportifitas March 5, 2010

Posted by merenung in Serba-serbi.
Tags: ,
trackback

Perlu diingat, bahwa tulisan ini sama sekali tidak memperdulikan apa yang dipertentangkan oleh kedua kubu, bahwa kebijakan bisa atau tidak bisa dipidanakan. Entah kebijakan itu salah atau benar, mau bisa ataupun tidak bisa dipidanakan, biarlah orang-orang yang merasa berkompeten memikirkannya.

Sesuai judul tulisan ini, apa yang terjadi memang merupakan ciri khas bangsa bersuku majemuk ini. Entah mengapa, bangsa ini hampir tidak akan pernah mungkin dapat bertidak sportif. Suatu kata yang sederhana, mudah diucapkan, tetapi bukankah milik bangsa ini. Mengimpor beruang es, pinguin atau menanam kurma, mungkin lebih mudah dari pada mengadopsi budaya yang  dapat membuat bangsa ini menjadi sportif. Demokrasi di-import tanpa budaya sportifitas. Jangankan untuk permainan demokrasi, untuk permainan olah raga saja kita sulit.

Lihat contoh nyata, permainan sepak bola. Dari Maradona, Messi dan Henry yang ketiga-tiganya, dan bahkan ribuan atau mungkin jutaan peristiwa memasukkan bola dan memenangkan pertandingan bola berkelas dengan bantuan tangannya, yang tentu saja haram didalam aturan permainan itu, tidak lah membuat mereka dikalahkan. Bahkan setelah terbukti nyata dan diakui oleh sipelaku sendiri, tidak juga dapat merubah score. Mengapa? Sangat sederhana jawabannya. Karena mereka bermain bola. Ada wasit yang memimpin pertandingan. Semua pihak mewakilkan kepada wasit untuk mengawasi permainan itu. Pelatih, pemain cadangan, penonton, suporter fanatik apalagi pemirsa TV tidak dapat berbuat apa-apa, walau dibantu oleh kamera yang merekam kejadian itu. Coba bandingkan dengan sepak bola bangsa ini. Jangankan kalah karena lawan memasukkan bola dengan tangan, atau kalah di kandang sendiri. Wong cuma draw di kandang sendiri saja suporter bisa ngamuk. Mana sportifitas?

Tabel Voting Paripurna Century

Tabel Voting Paripurna Century

Parlemen katanya lembaga perwakilan rakyat. Katanya mereka dipilih oleh rakyat dan mewakili konsituen yang memilih mereka. Lihat kelakuannya. Kadang berkata, bahwa mereka meraih suara terbanyak, tapi untuk menentukan suara terbanyak dengan voting (cara yang mereka anggap benar karena memenangkan mereka itu), alotnya bukan main. Kadang mereka bilang ini benar itu salah, tapi justru mengusulkan untuk mencampur aduk keduanya agar menjadi netral, (seperti pilihan A+C yang muncul di paripurna). Bagaimana dua pilihan yang berbeda dibilang sama (bahkan sampai setelah nyata-nyata kalah voting) hanya karena ada unsur kesamaannya. Menyamakan jambu dengan apel, karena sama-sama buah. Mungkin menyamakan mobil dengan pesawat, hanya karena sama-sama alat transportasi. Mungkin juga menyamakan kucing dengan manusia, hanya karena keduanya adalah mahluk hidup. Bahkan mungkin dapat menyamakan batu dengan manusia, hanya karena sama-sama ciptaan Tuhan. Demikianlah wakil rakyat, demikian pulalah rakyat pemilihnya. Apa yang dibela?

Tidak sportif? Segala cara ditempuh untuk membela kemenangan. Bahkan meninggalkan demokrasi (yang menjadi pilihan mereka) itu sendiri.
Kalau wasit bilang gol, pemain terima saja, walau nantinya terbukti bahwa lawannya memasukkan bola dengan tangan. Biar penonton menilai permainan bola itu.
Kalau wakil rakyat bilang salah, kenapa tidak mau terima, walau tidak terbukti bersalah. Katanya mau bekerja untuk rakyat, wakil rakyatnya sudah tidak percaya lagi kok masih mau terus.
Wakil rakyat juga seharusnya begitu. Kalau sudah dibilang salah tapi tetap ngotot merasa benar, sudah bilang tidak percaya tetapi yang tidak dipercaya ngotot merasa dipercaya, ya sudah. Biar rakyat yang menilai demokrasi macam itu. Jangan lalu merekayasa (mengarang-ngarang cerita) agar menjadi terlihat salah. Karena bisa saja rakyat menjadi tidak atau bahkan sudah tidak percaya dengan wakil-wakilnya. Wakil-wakil yang bicara tidak patut di ruang sidang, atau teriak-teriak (bahkan suara yang keluar cuma “huuu….., huuu…..”) bagai tidak pernah diajar berbicara mengemukakan pendapat.

Mengharapkan salah satu mengalah dan menerima hasil permainan (demokrasi) mereka dengan sportif? Hampir tidak mungkin. Mungkin karena sportif tidak dikenal didalam jiwa masyarakat kita. Bangsa yang berdemokrasi tanpa sportifitas. Lagipula apa bahasa Indonesianya sportif ya?

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: