jump to navigation

Berbangga Karena Apa? June 17, 2010

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , ,
trackback

Ribut-ribut soal video porno Ariel Luna Maya dan Cut Tari, apakah aku harus merasa jadi orang yang ketinggalan jaman ya? Apa ruginya ya kalo belum nonton? Pasalnya sampai sekarang memang aku belum pernah nonton film yang menghebohkan itu. Padahal kita bisa mengunduhnya dengan mudah di internet, atau katanya bahkan sudah direkam di cakram dan dijual secara diam-diam.

Beberapa tahun lalu, seorang kawan berkirim email dan meminta pendapatku. Dia membandingkan, mana yang lebih berharga memiliki suatu benda atau menikmati suatu benda. Waktu itu, diberikan contoh, seorang janda pensiunan pejabat yang ngotot mempertahankan rumah warisan suaminya yang terletak di lokasi strategis, tanpa bisa menikmatinya karena berbiaya mahal dan selalu dirongrong oleh orang yang (memaksa) untuk membelinya. Uang pensiun yang begitu sedikit sudah tidak cukup untuk biaya hidup, membiayai dan merawat rumah tersebut. Ceritanya lebih dramatis, karena listrikpun sempat diputus karena benar-benar tidak bisa membayar tagihannya. Aku tidak tanya, apakah ini cerita sungguhan atau hanya karangan saja, karena memang bukan itu yang dimintakan komentar.

Bagi kawanku itu, lebih baik rumah penuh kenangan itu dijual, uangnya dibelikan rumah yang kecil saja, sisa uangnya didepositokan, bunganya dinikmati untuk keliling dunia (demikian dia mencontohkan, emang laku berapa kalo dijual). Mungkin karena bunga bank masih tinggi saat itu.

Karena pertanyaannya adalah membandingkan antara memiliki dengan menikmati (rumah warisan), waktu itu aku menjawab bahwa bagiku kedua-duanya sama-sama tidak jelas amalnya. Aku garis bawahi, bahwa ganjaran pahala hanya milik ALLAH semata dan merupakan kuasa mutlak oleh ALLAH. Kita hanya bisa sok tau menilainya saja. Dari kedua contohnya, rasanya tidak menunjukan suatu amal yang menurutku akan mendapat ganjaran pahala. Bagi orang tua itu, aku tidak melihat mempertahankan kenangan (peninggalan suaminya) akan membuatnya melakukan amal perbuatan yang patut diganjar pahala. Menjual dan menikmati hasilnya, kemungkinan (belum pasti) akan memudahkan hidupnya. Tetapi apakah itu layak diganjar pahala? Apakah jalan-jalan keliling dunia patut diganjar pahala?

Ada kawan lain menganggap, pengalaman (mengalami sesuatu) adalah sesuatu yang berharga. Aku menganggapnya, belum tentu. Bisa jadi pengalaman itu justru menjerumuskan kita. Saat aku mengajukan argumen, bahwa agar berharga, pengalaman haruslah menjadi dasar tidak lanjut amal shaleh. Menurutku suatu pengalaman menjadi sia-sia tanpa diiringi amal shaleh, kawanku mengatakan argumenku mengikat. Baginya, pengalaman tidak harus ditindak lanjuti dengan suatu amal. Karena tidak semua pengalaman bisa dijadikan dasar amal perbuatan, misalnya pengalaman teknis, ilmu pengetahuan bisa diajarkan kepada atau dibagi dengan orang lain, sehingga bermanfaat. Baginya, pengalaman adalah pengalaman hidup yang mempengaruhi mental dan spiritual, yang menurutnya akan meresap dan mengendap dalam intuisi kita menjadi bagian dari alam bawah sadar kita. Tidak bisa ditularkan karena bersifat naluriah. Sehingga ketika kita menghadapi sesuatu, maka response kita secara reflek akan sedikit banyak dipengaruhi oleh pengalaman itu tadi.

Jika aku renungi, pengalaman hidup itu tetap saja akan sia-sia jika tidak kita amalkan dalam bentuk perbuatan. Walaupun itu mengendap dan menjadi bekal bagi kita. Aku coba melihat nasehat kawan lain yang menceritakan saat mereka bermusyawarah menetapkan sesuatu. Semua yang ikut bermusyawarah tentu berusaha memberikan pendapat terbaiknya berdasarkan pengalaman hidupnya. Berdasarkan pengetahuannya. Tetapi apa yang harus diucapkan saat usul atau pendapat kita itu diterima dan dipilih? InnaliLLAHi wa inna ilaihi rojiuun. Sementara jika usul atau pendapat kita itu tidak dipakai, maka layak kita berucap alhamduliLLAH. Mengapa? Kawanku berpendapat, jika usul kita dijalankan, mungkin saja nanti akan membawa kemudharatan, karena kita buta akan ketetapan ALLAH dimasa depan. Sementara jika usul kita tidak diterima, pasti kita bebas dari kemungkinan membawa kemudharatan tanpa mengurangi niat kita ikut berkontribusi dalam musyawarah itu. Bukankah amal tergantung dengan niatnya? Dan hasil sudah menjadi ketetapan mutlak dari ALLAH?

Sementara itu, sering kali aku, jika bercerita tentang pengalaman hidupku, dalam hati kecilku, selalu saja ada kebanggaan. Rasa yang terkadang aku sendiri tidak bisa membedakannya dengan kesombongan. Apakah bangga atau sombong. Padahal semua pengalaman hidupku itu hanya bisa aku jalani karena ALLAH sudah tuliskan, bahkan jauh sebelum penciptaan alam semesta ini. Lalu apa andilku sehingga aku merasa berharga mengalaminya? Apakah karena aku begitu keras dan gigih berusaha, sehingga layak mendapatkannya? Apakah sedemikian berharganya usaha kerasku itu? Bukankah kita hanya bisa memilih?

Karenanya aku tetap menganggap, pengalaman itu tidak berharga tanpa amal yang menyertainya. Apa amalan itu? Jika tidak bisa dibagikan atau berguna untuk orang lain, amal yang paling baik menurutku adalah bersyukur kepada ALLAH. Bersyukur karena ALLAH telah menetapkan takdir kita dan memberikan kesempatan kepada kita untuk mengalaminya. Bersyukur tentu tidak hanya dalam hati atau didalam kepala. Salah satunya dengan mengendalikan hati dan kepala kita dari kebanggaan (atau kesombongan) yang masih sering kita lupakan. Juga dengan selalu berdzikir (mengingat ALLAH), karena, jangan lupa, semua terjadi hanya karena sudah tertulis dalam skenario ALLAH Azza wa Jalla.

Apalagi kalo cuma udah liat video porno itu terus cerita sama temen “gue udah liat..!”.

Semoga ALLAH mengampuni kebanggaan dan kesombongan kita.

Mau Sombong Sama Siapa ?

Comments»

1. dan adirasa - June 18, 2010

kan..pahala mulu yang di cari…gila pahala ni yang nulis..
beragama karena mengharap imbalan sama seperti orang dagang…tipikal islam indonesia…selalunya cari pahala…yang utama ga dipikir..keridhaan Allah…

agama tu anugrah…carilah keridhaan Allah SWT…mo dapat pahala kek mo ngga kek bukan urusan kita…..Allah punya kuasa..yang penting ridha..

pengalaman tu anugrah..Allah menuliskan jalan kita masing, kita memilih jalan kita masing2…yang penting mencari keridhaan Allah..bagaimana mengamalkan penglaman kita…terserah aje masing2…

jalan2 yang banyak..jangan diem aje dirumah nuliss aje….

=====================
ma kasih kang pencerahannya, ane musti belajar lagi neh.

abis ane pikir gak mungkin ALLAH ridha tanpa ganjaran pahala (insya ALLAH), sebagaimana gak ada pahala tanpa ridha ALLAH. jadi ridha itu sama (aja dengan untuk mencari) pahala. dan semua memang mutlak urusan ALLAH.
mungkin juga ane salah. wa ALLAH a’lam.

jadi inget Kanjeng Rasul SAW yang giat sholat malam, padahal beliau maksum dan ALLAH telah ridha.
itu wujud kecintaan Beliau SAW dan bukan kegilaan.

kalo ane mah jauh panggang dari api, bisanya cuma gila doang kali. abis, kayak akang bilang, kurang jalan-jalan sih.
yang penting usaha ya kang ..he…he…he….

semoga ALLAH ridha sama akang sekeluarga.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: