jump to navigation

Gaza Tak Butuh Kamu June 17, 2010

Posted by merenung in israel.
Tags: , , , ,
trackback

Tulisan menarik terkait dengan menahan diri dari menunjukkan amal shaleh.

Gaza tak Butuh Kamu!
Koran Republika tanggal 01 Jun 2010
(copy paste dari bataviase.co.id)

Terapung di Laut Tengah, 180 mil laut dari Pantai Gaza, Santi Soekanto merasa hatinya gundah. Ia dan suaminya, Dzikrullah Ramudya, dari organisasi Sahabat Al Aqsa, berada di atas kapal Mavi Marmara, kapal terdepan dari rombongan Freedom Rotilla yang hendak menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Palestina.

Santi, mantan wartawan The Jakarta Post, menuangkan kegundahannya itu dalam surat elektronik yang ia kirimkan ke sejumlah rekan pada 29 Mei lalu. Surat yang sangat menyentuh berjudul Gaza Tidak Membutuhkanmu! Berikut cuplikannya. “Ada banyak cara untuk melewatkan waktu. Banyak di antara kami yang membaca Alquran, berzikir, atau membaca. Ada yang sibuk mengadakan halaqah. Beyza Akturk dari Turki mengadakan kelas kursus bahasa Arab untuk peserta Muslimah Turki. Senan Mohammed dari Kuwait mengundang seorang ahli hadis, Dr Usama Al-Kandari, untuk memberikan kelas Hadits Arbain an-Nawawiyah secara singkat dan berjanji para peserta akan mendapat sertifikat.

Wartawan sibuk sendiri. Para aktivis, terutama veteran perjalanan-perjalanan ke Gaza sebelumnya, mondar-mandir. Ada yang petantang-petenteng memasuki ruang media sambil menyatakan bahwa dia “tangan kanan” seorang politisi Inggris yang pernah menjadi motor salah satu konvoi ke Gaza.Ada begitu banyak activism, heroism. Bahkan, ada seorang peserta kafilah yang mengenakan kaus bertuliskan “Heroes of Islam”. Di sinilah terasa sungguh betapa pentingnya menjaga integritas niat agar selalu lurus karena Allah taala. Yang wartawan sering merasa hebat dan powerful karena mendapat perlakuan khusus berupa akses komunikasi dengan dunia luar. Anggota parlemen atau pengusaha, mungkin merasa diri penting karena sumbangan material yang besar terhadap Gaza.

Kalau dibiarkan riya akan menyelusup, naudzubillahi min dzaalik, dan semua kerja keras ini akan kehilangan makna bagaikan buih air laut yang terempas ke pantai.Apa yang kau lakukan Santi? Untuk apa kau lakukan ini Santi? Tidakkah seharusnya kau berlindung kepada Allah dari ketidakikhlasan dan riya? Kalau sekadar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, subhanallah,sungguh banyak orang yang jauh lebih layak dihargai oleh seisi dunia di sini.Mulai dari Presiden IHH (Insani Yardim Vakfi), Fahmi Bulent Yildirim, sampai seorang Muslimah muda pendiam dan shalihah yang membantu agar kawan-kawannya mendapat sarapan, makan siang, dan makan malam pada waktunya. Para ulama terkemuka di atas kapal ini dan beberapa pria ikhlas yang tanpa banyak bicara sibuk membersihkan bekas puntung rokok sejumlah perokok ndableg.

Kalau sekadar penghargaan manusia yang kubutuhkan di sini, subhanallah, di tempat ini juga ada orang-orang terkenal yang petantang-petenteng karena ketenaran mereka.Semua berteriak, “Untuk Gaza!” Namun, siapakah di antara mereka yang teriakan-nya memenangkan rida Allah? Hanya Allah yang tahu.Gaza tak butuh aku. Dari waktu ke waktu, aku perlu memperingatkan diriku bahwa Al-Quds tidak membutuhkan aku. Gaza tidak membutuhkan aku. Palestina tidak membutuhkan aku.Masjidil Aqsha milik Allah dan hanya membutuhkan pertolongan Allah. Gaza hanya butuh Allah. Palestina hanya membutuhkan Allah. Bila Allah mau, sungguh mudah bagi-Nya untuk saat ini juga, detik ini juga, membebaskan Masjidil Aqsha. Membebaskan Gaza dan seluruh Palestina.

Akulah yang butuh berada di sini, suamiku Dzikrullahlah yang butuh berada di sini karena kami ingin Allah memasukkan nama kami ke dalam daftar hamba-hamba-Nya yang bergerak, betapapun sedikitnya, menolong agama-Nya. Menolong membebaskan Al-Quds.Ada 12 relawan asal Indonesia yang ikut pelayaran Freedom Flotilla. Selain Santi dan suaminya, ada pula wartawan Suara Hidayatullah, Surya Fahrizal, wartawan TVOne M Yasin, sejumlah dokter dari tim MER-C, dan rombongan Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA).Sejak pekan lalu mereka berkumpul di Turki, bersama ratusan relawan lainnya dari berbagai negara, seperti Turki, Inggris, Irlandia, Swedia, Yunani, Kuwait, dan Aljazair.

Hingga kini kabar seluruh relawan pasca penyerangan kapal Mavi Marmara oleh pasukan Israel belum jelas. Tidak diketahui apakah ada relawan Indonesia yang menjadi korban. Kementerian Luar Negeri berkoordinasi dengan tiga perwakilan di Beirut, Yordania, dan Turki terus mengecek informasi para relawan.Amirul, adik Dzikrullah, mengaku pada Senin pagi menerima telepon dari kakaknya. Lewat sambungan telepon, Dzikrullah bercerita bagaimana biadabnya tentara Israel menembaki penumpang Mavi Marmara. Tak lama bercakap, telepon terputus. “Tentara Israel langsung melakukan jamming saluran telepon. Percakapan kami terputus saat itu juga,” kata Amirul.

Pemimpin Redaksi Suara Hidayatullah, Mahladi, mengatakan, kontak terakhir dengan wartawannya, Surya, terjadi pada Senin sekitar pukul 04.00 WIB. “Saat itu dia bilang terjadi serangan dengan suara terputus-putus,” kata Mahladi. Setelah itu, Mahladi belum mendengar kabar lagi.Sebelum berangkat, Mahladi menuturkan, Surya sempat meminta maaf pada seluruh rekannya di redaksi. Mahladi sejak awal menegaskan bahwa keberangkatannya sebagai misi jihad. “Surya dengan tegas menyatakan siap.”

Sementara, wartawan TVOne, Muhammad Yasin, hingga kini belum bisa dihubungi oleh rekan-rekan dari kantornya. “Pernah ada nada sambung di ponselnya, namun tidak diangkat-angkat. Saat ini ponselnya, mailbox terus,” ujar Totok Suryanto, general manager news TVOne. Menurut Totok, Yasin terakhir menyiarkan laporannya dari atas kapal pada Jumat. Saat itu kapal hendak berangkat menuju Gaza.Semoga Allah SWT melindungi nasib para relawan asal Indonesia yang berjuang menuju Gaza. Amin! rahmat basarah/ indra wardhana/cl3/antara ed stevy

Comments»

1. dan adirasa - June 18, 2010

ngapin jauh2 ke gaza…suruh urus diri mereka sendiri dulu…damai lah sendiri..baru lawan tu musuh mereka…

bangsa kita masih penuh dgn orang yang menderita…beresin dulu rumah lu..baru nenangga…

cari pahala mulu yang di pikir…mang agama urusannya pahala doang…

=================

ma kasih, dah mampir.

2. Abu Radit - August 18, 2010

1. dan adirasa – June 18, 2010
ngapin jauh2 ke gaza…suruh urus diri mereka sendiri dulu…damai lah sendiri..baru lawan tu musuh mereka…
bangsa kita masih penuh dgn orang yang menderita…beresin dulu rumah lu..baru nenangga…
cari pahala mulu yang di pikir…mang agama urusannya pahala doang…
=================
Orang yang ngomong kaya di atas bukanlah orang … dia ga butuh orang lain, bayngkan kalau yang terjadi adalah diri kita sendiri, negara kita sendiri, saudara kita sendiri. …. Pasti sakit …. disaat kita membutuhkan bantuan dari saudara-saudara kita yang keadaannya lebih baik dari segi dunia, saat itu mereka hanya melihat kita berjuang sendiri untuk melepaskan penderitaan yang kita alami …. bayangkan saudara, dimana hati nuranimu …
=================

terima kasih pendapatnya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: