jump to navigation

Pelajaran Dari Sahabat June 17, 2010

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags:
trackback

Seakan baru kemarin rasanya aku kehilangan seorang kawan. Kawan satu kelas di SMA kelas 2 dan 3 yang kebetulan juga tinggal tidak terlalu jauh dari tempat tinggalku. Kawan yang semasa SMA setiap hari selalu bertemu, karena waktu nongkrong dan jalan malam minggu pun kami juga hampir selalu bersama. Walau berbeda sudut pandang dalam berbagai hal, tapi dia termasuk sahabat yang paling enak. Bercandanya enak, ledek-ledekannya enak, marahan dan diem-dieman juga enak, sampai sakit hatipun juga masih enak. Kadang terasa aneh juga kalo aku dan dia sama-sama “no heart feeling”. Tapi seperti itulah persahabatan kami.

Selepas SMA kami masuk di perguruan tinggi yang berbeda, tapi tahun-tahun awal masuk perguruan tinggi, tetap saja kami masih sering bertemu. Main band bersama dan sempat manggung bersama, walau tentu saja hanya tingkat RT/RW. Dia tukang cari chord lagu, aku tinggal main gitar dan nyanyi. Tidak ada yang berubah dari persahabatan kami. Tetap bercanda, ledek-ledekan, marahan, diem-dieman, ketemu dan jalan bareng. Kami juga  bersahabat dekat dengan beberapa kawan lainnya.

Tahun-tahun ketiga di perguruan tinggi, aktifitasku di kampus mulai banyak dan pertemuan kami semakin jarang. Sampai akhirnya aku lulus dan berkeluarga, lalu pindah rumah agak menjauh dari rumah kawanku itu. Banyak sekali kenangan yang kami berdua alami. Semua menjadi kenangan lucu jika diingat-ingat.

Awal Maret lalu, aku diberi tahu kawan lewat telpon, bercerita kalau sahabatku ini sedang sakit. Padahal hampir setiap tiga bulan kami selalu bertemu di reuni rutin kelas sewaktu SMA. Jadi Desember lalu aku masih ketemu, ketawa dan foto-foto bersama. Cepat sekali penyakit itu.

Malam sepulang dari kantor aku ke rumahnya. Kawanku ini duduk di lantai dengan penyangga leher dikelilingi anak asuh dan kawan lainnya. Dia memang punya beberapa anak asuh, anak-anak muda kuliahan yang senang bongkar-pasang mesin mobil. Tulang belakangnya sakit, terutama daerah dekat dengan tulang belikat.

Cepat sekali hari berlalu, belum dua minggu di rumah sakit kawanku ini sudah dipanggil menghadap Sang Pencipta. ALLAH menyegerakan panggilan itu agar kawanku tidak lebih lama tersiksa dengan penyakitnya. Semua tawa canda hilang tinggal kenangan dengan cerita-cerita lucu telah pergi bersamanya. Aku merasa kehilangan, walau sadar bahwa cepat atau lambat semua memang akan hilang dan kembali kepada Sang Pencipta.

Tetapi ada yang tetap tinggal dan menjadi pelajaran untukku.

Malam itu jenazah dibawa dari rumah sakit ke rumah duka. Banyak keluarga, tetangga dan teman-teman berdatangan ke rumah duka, diantaranya beberapa “orang masjid”, demikian kita memanggil kawan-kawan yang istiqomah meramaikan masjid di dekat rumah duka. Salah seorang dari orang masjid mendekati kawanku dan titip pesan: “Tolong sampaikan kepada keluarga almarhum, kalau ada yang ingin mengetahui apa yang selama ini almarhum ajarkan di masjid, bisa datang ke masjid. Kami masih mengamalkannya.”

Pesan itu demikian singkat dan membuat kami bertanya-tanya. Apa yang diajarkan oleh almarhum kawanku ini di masjid, sampai-sampai orang masjid itu merasa perlu menyampaikan pesan tersebut. Sementara kita-kita, kawan-kawan akrabnya yang merasa sangat mengenal tingkah laku dan pergaulannya, tidak menyangka almarhum meninggalkan ilmu.

Belum selesai bertanya-tanya, malam ke tiga seusai mengadakan tahlil di rumah duka, seorang bapak-bapak datang dan memperkenalkan diri juga sebagai orang masjid. Tapi kali ini datang dari masjid yang lokasinya jauh di kampung. Mungkin sekitar 40 km jaraknya. Setelah diberi tahu bahwa kawanku ini telah tiada, dia menyampaikan bahwa “almarhum ikut membantu  membangun masjid di kampungnya”.

Kami semua terperangah. Tidak satupun keluarga atau kawan-kawannya yang setiap dan sepanjang hari bersama dengan almarhum mengetahui hal itu. Begitu tertutupnya almarhum terhadap amal shaleh nya (insya ALLAH) kepada orang lain. Bertolak belakang dengan sifatnya yang sungguh terbuka.

Aku sungguh merenungi pelajaran ini. Apakah aku bershadaqah dengan terbuka. Orang lain menjadi mengetahui amal shadaqah ku, langsung atau tidak langsung. Apakah justru aku merasa bangga atas shadaqah ku, karena orang lain mengetahuinya. Apakah justru aku yang menceritakan kepada orang lain tentang shadaqah ku, walau maksud hati untuk mengajaknya bershadaqah, padahal mungkin shadaqah mereka jauh lebih banyak dan tersembunyi.

Apakah tidak sebaiknya kita menutup amal-amal shaleh kita, apapun itu, dibandingkan dengan memperlihatkan apalagi menceritakan kepada orang lain, walau dengan maksud mengajak berbuat kebaikan? Bukankah almarhum kawanku ini tidak pernah bercerita kepada siapapun dan ternyata aku menjadi mengetahuinya, walau setelah dia tiada. Lagi pula, ajakan untuk bershadaqah dan berbuat baik itu sudah menjadi ajakan mendasar bagi setiap muslim.

Mengutip tulisan pada situs http://www.jkmhal.com dengan judul Tujuh Orang Yang Dilindungi Allah SWT, sebagai berikut:

Berkata Abu Hurairah ra., bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda, “Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah Pemimpin yang adil; Anak muda yang senantiasa beribadat kepada Allah SWT; Seorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan masjid; Dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah; Seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawabnya, “Sungguh aku takut kepada Allah”; Seorang yang mengeluarkan shadaqah lantas di sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya; Dan seorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan airmatanya.”  (HR Bukhari dan Muslim)

Wa ALLAH a’lam.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: