jump to navigation

إخلاص / Ikhlas June 22, 2010

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: ,
trackback

إخلاص

English: Sincerity, Dedication, Loyalty, Devotion, Fidelity, Honesty, Candor, Allegiance, Adherence, Trueness, Genuineness, Trustfulness, Steadiness, Constancy

Indonesian: Ketulusan

Berarti nggak ikhlas dong kalo terpaksa gitu…!!!”, demikian respons pertama temanku saat aku bercerita tentang sedikit kekecewaanku pada sesuatu. Aku jadi teringat, katanya “ikhlas” itu seperti orang buang air besar (pup). Asalkan sudah benar dimana tempatnya, mana pernah kita pikirin si”pup” mau kemana, jadi apa, atau diambil siapa, atau kenapa begini-kenapa begitu, dan seterusnya. Begitu kita buang, kita lega, selesai, dan kita sudah tidak pernah lagi memikirkannya. Paling-paling kalo WC kita mampet.

Penasaran dengan kata yang satu ini, aku coba cari apa sih “ikhlas” itu sebenarnya, sampai-sampai kalau kita kecewa terhadap sesuatu, lalu serta-merta dibilang nggak ikhlas. Kata, yang dalam Bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “ketulusan” ini,  pada English Dictionary punya beberapa padanan kata lainnya.

Aku jadi berfikir, apakah selama ini aku sudah ikhlas? Apakah ikhlas itu (memang) tidak boleh “mempertanyakan”?  Apakah kalau terpaksa, kita pasti tidak ikhlas? Walaupun terpaksanya karena ALLAH? Terpaksa karena takut dan sadar tidak ada daya upaya tanpa ALLAH?

Walaupun cukup baik, tetapi mencontohkan seperti orang “pup” untuk keikhlasan rasanya menurutku jadi agak kurang tepat. Pup memang kita harus buang, karena bisa jadi penyakit kalau kita simpan. Kalau konteksnya zakat mungkin lebih pas. Tetapi ikhlas, rasanya tetap gak bisa lepas begitu saja. Bukankah kita nanti tidak akan ditanya kemana pup kita, tetapi akan ditanya tentang kemana umur, ilmu dan harta kita?

Kanjeng Rasul SAW ikhlas berdasarkan rasa cinta Beliau kepada ALLAH. Rasa syukur, berterima kasih, pengabdian dan seterusnya. Walau Beliau maksum atas kesalahan yang terdahulu maupun yang kemudian, tetapi riwayat mencatat Beliau selalu menjalankan sholat malam yang sangat panjang. Wujud keikhlasan dengan semua unsur Sincerity, Dedication, Loyalty, Devotion, Fidelity, Honesty, Candor, Allegiance, Adherence, Trueness, Genuineness, Trustfulness, Steadiness, Constancy. Banyak orang mewujudkan cinta mereka kepada Kanjeng Rasul SAW dengan mengikuti dan menjalankan sunnah Beliau SAW. Ikhlas atas dasar cinta dengan ketulusan.

Ada orang ikhlas karena patuh. Karena disuruh, dia melakukan. Konon Para Malaikat Yang Dimuliakan ALLAH, hanya melakukan apa yang diperintahkan oleh ALLAH SWT. Tidak kurang dan tidak lebih. Tanpa nafsu dan inisiatif. Manusia juga banyak yang (berusaha) patuh dengan perintah ALLAH. Diperintahkan shalat lima waktu, lalu shalat lima waktu. Diperintahkan puasa Ramadhan, lalu puasa di bulan Ramadhan. Dan seterusnya. Tentu ini juga disebut ikhlas.

Menurutku, ikhlas itu bisa saja terpaksa. Dan aku, mungkin lebih sering terpaksa. Pernah aku ditanya oleh teman, yang entah sedang iseng atau juga sedang merasa terpaksa. “Kalo ALLAH perintahkan kita shalat hanya sekali dan boleh milih waktunya sendiri-sendiri, kira-kira kita sholat lima waktu nggak ya?”. “Wah, mungkin malah lupa nggak sholat kali“, jawabku.”Jadi sebenernya kita sholat ini terpaksa ya?“. Mungkin iya juga. Tetapi menurutku tetap saja itu ikhlas. Masuk kelas paling rendah. Ikhlas yang hanya sekedar menggugurkan kewajiban semata. Paling tidak itu semua karena ALLAH. Bukan berharap dari yang lain, selain ALLAH.

Ya ALLAH beri aku kepandaian agar bisa naik kelas.

Al Ikhlas

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: