jump to navigation

Cerai ! July 15, 2010

Posted by merenung in Kehidupan, Keluarga, Umum.
Tags: , ,
trackback

Pintu rumahku diketuk dari luar, seraya terdengar salam dari seorang perempuan yang aku sudah kenal siapa. Setelah membuka pintu, mempersilahkan masuk dan duduk, kalimat pertama yang meluncur cukup mengagetkan. “Aku sudah ditalak oleh suamiku.”

Aku dan istriku agak terperangah dan tidak menyangka ternyata sudah sejauh itu persoalan mereka.

Karena memang hal tabu seperti ini, walau halal tetap saja bukan menjadi pilihan berfikir apalagi menjadi topik diskusi. Untuk apa, begitu pikirku. “Sudah, sabar aja”, begitu saranku umumnya, kalau ada yang keluh kesah tentang pasangannya. Kalau mau dituruti, mungkin kebanyakan pria punya banyak alasan untuk menceraikan istri-istrinya. Bagaimana tidak, saudara sekandung yang hidup dalam satu keluarga dan lingkungan yang sama sejak lahir saja banyak perbedaan, apalagi dua orang asing yang hidup dengan latar belakang masing-masing yang berbeda. Tentu sangat rumit.

Tetapi, perkawinan memang merupakan tahapan kehidupan yang juga merupakan “ladang ujian” bagi yang menjalaninya. Sebagaimana ladang ujian, tergantung bibit amal seperti apa yang ditanam untuk mengisinya. Pohon amal apa yang akan tumbuh dan dilihatnya. Buah apa yang akan dipetik dan rasa apa yang akan dirasakannya. Dan akhirnya, ganjaran apa yang didapat di hari kemudian nantinya.

Menyatukan pandangan dua manusia asing pastilah sulit tanpa saling pengertian. Saling menghormati, menghargai, mengisi, dan seterusnya. Cinta yang timbul dari rasa sayang hanyalah sebuah bangunan. Dengan pondasi yang diletakkan pada rancang bangun yang sudah dibayangkan sebelumnya, susunan batu bata dan rekatan semen yang sesuai adukannya, serta atap yang menaunginya. Walau seperti bangunan, cinta harus diusahakan dan dibangun sendiri. Dengan tenaga dan cucuran keringat sendiri. Tidak bisa diserahkan ke kontraktor, cari mandor atau tukang untuk membantu, apalagi kalau bahan bangunannya ngutang di toko material.

Kalau suatu saat, cinta itu tidak terasa lagi. Coba tanyakan, apakah selama ini bangunan itu sudah ada? Sudahkah diupayakan? Alih-alih menghancurkannya, jangan-jangan meletakkan pondasipun belum pernah dilakukan. Jadi jangan cepat-cepat bilang cerai.

Lalu mengapa hal yang satu ini diperbolehkan untuk dilakukan? Padahal jelas-jelas ALLAH tidak menyukainya? Menurutku, pastilah hanya ada satu alasan untuk melakukannya. Yaitu, “jika tidak dilakukan, masing-masing akan terus menerus berbuat dosa”.

Suami yang tidak pernah ikhlas kepada istrinya, tidak menafkahi istrinya, menyakiti hati istrinya (apalagi memukulinya), dan sebaliknya istrinya tidak mau melayani suaminya, mengumpat-umpat dan membuka-buka aib suaminya, dan seterusnya, mungkin bisa dijadikan alasan untuk seseorang bercerai. Karena jika diteruskan, mereka akan terus menerus berbuat dosa.

Tidak ada cinta menurutku bukanlah alasan yang bisa diterima. Apalagi harta, rupa, gaya atau tahta, tentu bukanlah alasan untuk itu.

untuk dicintai

Akhirnya, setelah dalam beberapa kesempatan aku ketemu dengan keduanya, aku berpesan, “Jangan putuskan berdasarkan saran orang lain, dengarkan saja nasehat mereka, jadikan referensi dalam berfikir dan mempertimbangkan, lalu putuskan apa yang menurutmu paling baik. Selama waktu masih ada, kesempatan untuk memperbaiki tentu masih juga ada’.

Aku renungi dalam-dalam, memang aku tidak bisa menyarankan lebih baik dari itu.

Semoga ALLAH mengikat hati pasangan manusia yang mau berusaha membangun cinta dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: