jump to navigation

Bersyukur – dari Wall Seorang Kawan July 24, 2010

Posted by merenung in Kehidupan, Serba-serbi, Umum.
Tags: ,
trackback

Kawan lama di wall Facebooknya menulis kata-kata menggelitik; “Kalau ternyata “yang ada di tangan” ini memang terbukti kurang bagus dibanding “yang belum di tangan”, terus punya keinginan untuk punya “yang belum di tangan”, apakah ini artinya gw gak bersyukur ?”

Layaknya kalimat yang menarik, tanggapanpun berluncuran secara (mungkin) spontan. Dan, semuanya membenarkan bahwa menginginkan sesuatu yang lebih bagus  itu adalah suatu kewajaran. Sesuatu yang manusiawi. Kawan lain bahkan menekankan, “tu bedanya malaikat dengan manusia …. malaikat tidak punya keinginan..”, agar lebih mantab (pake “b”) mungkin.

Sekilas aku membaca status tersebut, langsung saja aku menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang dapat menggelincirkan hati kita. Sambil bermaksud sangat serius, aku menulis komentar yang tidak kalah menggelitik; “tergantung “apa” yang sudah ditangan. kalau “apa” yang ditangan itu adalah “istri”…….”. Kawan yang sedikit terperangah langsung menyapa mesra; “sontoloyo…”. (ini benar-benar kata mesra, karena kedekatan kami dahulu memang tidak memaknai kata tersebut dengan arti yang negatif). Bahkan kawan lain, (kebetulan seorang wanita), dengan mungkin sedikit tersinggung menanggapi; “emang para suami merasa dirinya sudah bagus yah, ck ck ck , what a man !”.


وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلاً مَّا تَشْكُرُونَ

Al-A’raf (7) : 10. Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.

ثُمَّ لآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَآئِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Al-A’raf (7) : 17. kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan men-dapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at).

Sudah sangat sering aku merenungi hal yang satu ini. Hal yang sangat sederhana tetapi mengapa begitu sulit diterima.

Jika aku meyakini bahwa alam semesta ini ada dalam genggaman (kekuasaan) ALLAH Azza wa Jalla, semua telah ditulis (ditetapkan) oleh ALLAH “sebelum” penciptaan dan tiada satupun yang lepas (menyimpang) dari apa yang telah ditetapkan oleh Nya, sementara ALLAH itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kaya, Maha-maha Segala-galanya. Apakah ada satu saja scenario (ketetapan) ALLAH yang “kurang bagus” atau malah “buruk”, atau paling tidak “sia-sia”? Dan itu ada pada diri kita?

Apapun yang selama ini (dan sampai nanti) kita dapatkan, pastilah sudah ditetapkan (menjadi ketetapan) ALLAH. Kalau itu ketetapan ALLAH, apakah itu “kurang bagus” atau malah “buruk”, atau paling tidak “sia-sia” bagi kita? Mana berani aku menganggap seperti itu. Karena itu bertentangan dengan logika akal sehatku.Semua ketetapan itu pastilah yang terbaik bagiku.

Bukan hanya istri, tetapi juga anak, rumah tinggal, teman-teman, hidung, mulut, makanan, kesehatan, penyakit, kekayaan, kemiskinan dan seterusnya, semuanya saja adalah “yang paling baik ditetapkan oleh ALLAH untuk kita” pada saat kita dapati itu sebagai takdir. Mengapa? Karena ALLAH (sudah) menetapkannya dengan ke-Maha Adil-Nya, ke-Maha Pemurah-Nya, ke-Maha Kaya-Nya, dan ke-Maha-maha lainnya. Jadi tidak mungkin ketetapan itu kurang bagus (yang berarti kurang sempurna ketetapannya) apalagi buruk dan sia-sia.

Akan halnya bersyukur, itu berarti menerima dan berterima kasih atas apa yang kita dapati sebagai pemberian dari ALLAH kepada kita. Apa yang kita dapati sebagai pemberian ALLAH kepada kita? Semuanya. Segalanya. Seluruhnya. Memang semuanya adalah pemberian ALLAH kepada kita.Cukupkah hanya dengan berterima kasih? Tentu tidak. Tapi akan panjang cerita tentang bersyukur ini.

Kembali ke wall kawan yang membuat tertawa ini, kita memang harus menerima semuanya bak lagu d’Masiv “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik”. That’s it !

Kalau kita “punya keinginan untuk punya “yang belum ditangan””, memang bisa jadi itu bentuk dari tidak bersyukur, atau kurang bersyukur. Karena bisa jadi lebih banyak orang lain tidak memilikinya “ditangan mereka”. Berapa banyak orang lain yang ingin memiliki seperti apa yang ada ditangan kita? Apakah kurang (bagus) yang ALLAH telah berikan kepada kita untuk kita kuasai itu?

Kembali ke lagu d’Masiv, yang berorientasi kepada amal (shaleh) perbuatan  “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik”. Sementara menginginkan sesuatu “yang belum ditangan” (yang menurut kita lebih bagus), mungkin hanya bersandar pada hawa nafsu belaka. Yang tiada pernah habis sampai kita menutup mata.

Dari Abdullah bin ‘Abbas dan Anas bin Malik r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Andaikan seorang anak Adam (manusia) mempunyai satu lembah dari emas pasti ia ingin mempunyai dua lembah dan tidak ada yang dapat menutup mulutnya (menghentikan kerakusannya kepada dunia) kecuali tanah (maut). Dan Allah berkenan memberi taubat kepada siapa yang bertaubat.”

(Bukhari – Muslim)

Mungkin mikirnya sederhana aja kali ya, “rasanya kurang bagus kalau cuma punya satu lembah emas, kalau punya satu lagi pastilah lebih bagus”.

Wa ALLAH a’lam.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: