jump to navigation

Anak Mencontoh Kita September 22, 2010

Posted by merenung in Kehidupan, Serba-serbi, Umum.
Tags: ,
trackback

Seorang kawan yang punya profesi sebagai seorang guru privat minggu lalu mampir ke rumah dan bercerita tentang salah seorang muridnya. Muridnya itu  adalah seorang ibu tua, istri seorang mantan pejabat tinggi negara yang mempunyai keluarga besar dan kebetulan putra-putrinya sudah pula berkeluarga. Layaknya orang tua yang sudah lebih sering mawas diri untuk hal-hal yang cenderung berbau spiritual dan kebetulan terkait dengan pengajaran kawanku itu, seperti sudah pada tempatnya ibu tua ini curhat (keluh kesah ?) kepada kawanku ini.

Konon beberapa waktu lalu, saat masih Ramadhan, bulan penuh barokah, sang ibu tua ini ingin menyempatkan diri untuk berbuka puasa bersama di salah satu panti asuhan. Buka puasa bersama  sambil menyantuni anak-anak panti itu untuk persiapan Lebaran yang sudah semakin dekat. Si ibu tua ini tentu ingin mengajak anak-anaknya (sekeluarga) untuk ikut dalam aktifitas ini sambil memberikan pendidikan dengan contoh langsung bagaimana mempersiapkan bekal akhirat nanti. Amal shaleh bulan Ramadhan, menyantuni anak yatim sambil berbuka puasa bersama mereka, tentu amat mudah ditangkap, diterima dan dimengerti, demikian pikir ibu tua tersebut.

Sang anak, kebetulan seorang anak muda hasil didikan Paman Sam, lulusan universitas ranking satu yang sangat terkenal di belahan benua sana yang juga merupakan perguruan tinggi terbaik di dunia (versi apapun). Jadi bisa dikatakan, sang ibu ini boleh bangga karena telah sukses mengantarkan anaknya menjadi seorang yang (juga) “sukses”. Sayang kawanku lupa menceritakan lebih detail, berapa orang anak sang ibu itu, dan akupun lupa bertanya.

Betapa kecewa ibu tua itu, saat anaknya tidak dapat datang memenuhi undangan, dengan alasan yang (ibu tua itu merasa) terkesan dibuat-buat atau berlebihan. Karena tempat panti asuhan itu yang mungkin kurang memadai, sang anak mengaku akan sangat kerepotan jika membawa anaknya ketempat yang kurang sesuai, apalagi melewati jalanan yang macet. Tidak terlalu rinci, kerepotan seperti apa, kecuali “nanti dia bisa nangis-nangis”, mungkin “rewel” maksudnya. Si ibu tua ini memendam rasa kecewa karena si anak lebih tidak mau direpotkan dengan kerewelan cucu, daripada mendahulukan dan menghormati undangannya. Padahal ada pelajaran penting yang ingin disampaikan (dicontohkan) kepada anaknya.

Beberapa waktu berlalu, sang anak berkunjung ke rumah ibunya. Si ibu pun mencoba mengutarakan apa yang waktu itu direncanakan dan untuk apa dia mengundang anaknya datang. Dia bercerita tentang amal shaleh berbagi kepada anak yatim dan orang miskin. Cerita tentang betapa hidup bukan hanya di dunia saja dan perlunya bekal untuk akhirat nanti. Tentu saja tidak sulit menangkap apa yang dimaksud ibunya untuk seorang anak muda yang cerdas ini, tetapi yang terlontar dari mulutnya membuat si ibu tercengang dan kehilangan kata-kata.

“Apakah mama waktu seusiaku ini sudah memikirkan semua itu?”, begitu ucapnya, yang mungkin dia lupa, bahwa belum tentu dia bisa mencapai umur setua ibunya.

Betapa curhat si ibu kepada kawanku memberikan pesan, bahwa mungkin kita bisa mewariskan harta, tahta bahkan mungkin ilmu kepada anak kita. Tetapi bukankah “nilai / value” jauh lebih penting dari sekedar dunia ini? Dan jika aku renungkan, mungkin banyak hal yang aku lalai dalam mendidik anak, dalam arti memberikan contoh kepada mereka. Aku mungkin senang kalau nilai anakku tinggi dan walaupun dia meyakinkanku bahwa itu didapatnya bukan dari mencontek, tetapi aku tidak peduli apakah dia mengerti atau tidak tentang ujian pelajaran itu. Aku baru ikut belajar dan berusaha mengajarinya saat nilainya jelek atau tidak bisa mengerjakan pe-er sekolahnya. Aku lebih peduli pada hasil daripada prosesnya. Dan cerita tentang ibu tua itu menyadarkan, bahwa si ibu tua itu telah menerima hasil dari sekian lama proses pengajaran kepada anaknya, yang sering kali orang lain melihatnya sebagai kesuksesan. Tetapi faktanya, ibu tua itu kecewa.

Walau telah lewat, tak ada kata terlambat, tak ada yang sia-sia. Semoga ALLAH memberikan kesempatan kepada kita semua untuk memperbaiki diri.

Wa ALLAHu a’lam.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: