jump to navigation

Melihat (Bukan Hanya) Dengan Mata September 28, 2010

Posted by merenung in Kehidupan, Serba-serbi, Umum.
Tags:
trackback

Aku mungkin sedikit kecewa dengan Eko Ramaditya Adikara. Anak muda yang selama ini aku lihat sebagai salah satu dari sekian banyak “pengingat” akan Kebesaran dan Kekuasaan ALLAH Azza wa Jalla.

Bagaimana tidak, pertama kali aku melihatnya, saat itu dia tampil di acara Kick Andy di Metro TV. Salah satu dari sekikit sekali acara TV yang sering memberikan inspirasi bagi yang menontonnya. Sejauh yang aku ingat, selain terkagum-kagum dengan “kepercayaan diri” yang begitu tinggi dan prestasi yang diceritakannya (walau belakangan, itu semua kebohongan), satu kalimat yang sangat menyentak terucap dari mulutnya, “kalau bung Andy dan para penonton sekalian yang awas memikirkan apa yang kalian lihat, maka saya melihat yang saya pikirkan”. Kalimat singkat yang luar biasa bagiku yang “awas” ini. Kalimat itu terdengar ditelingaku seperti “eitss…, nanti dulu…, yang buta itu kamu apa saya…?”. Sayangnya, aku cari-cari rekaman video acara tersebut tidak ada di internet. Entah, apakah Kick Andy sendiri sudah menghapusnya, atau memang tidak pernah di upload.

Keterbatasan Membuat Rama Berprestasi

Ramaditya Plays Tin Whistle: Scars of Time from Chrono Cross

Mata memang untuk melihat. Tetapi mata bukanlah satu-satunya alat kita bisa melihat. Karenanya banyak istilah-istilah ada-tapi-tiada, seperti fatamorgana, ilusi dan yang lainnya. Tapi ada juga yang aku paling takutkan, yaitu melihat fakta dan kenyataan dengan mata, tetapi ingkar bak tidak melihatnya.

Al-Baqarah (2) : 18
صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لاَ يَرْجِعُونَ
2.18. Mereka tuli, bisu dan buta , maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar),

Al-An’am (6) : 104
قَدْ جَاءكُم بَصَآئِرُ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَاْ عَلَيْكُم بِحَفِيظٍ
6.104. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu) , maka (manfa’atnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).

Ramaditya juga manusia, dia memang tidak bisa melihat dengan mata. Mungkin dia juga sempat dibutakan oleh khayalannya untuk menjadi komposer lagu-lagu game kesukaannya. Sampai-sampai dia ingkar terhadap kejujuran, hingga orang lain harus mengejarnya terlebih dahulu baru mau mengaku.

Game Composer Hoax

Tetapi bukankah sampai hari ini masih banyak orang-orang yang dibutakan oleh materi. Buta oleh kedudukan dan kekuasaan. Bahkan dikejar-kejar setiap haripun mereka tetap tak bergeming. Ingkar terhadap kebenaran. Ingkar terhadap kejujuran. Untuk mereka yang ingkar ini, mungkin Ramaditya tetap jauh lebih berharga. Dan kalimatnya nyata-nyata tepat, “eeeiiitttttssss….., siapa yang buta….? gue apa elu….?”.

Insyaflah !

Pengakuan Dan Permintaan Maaf Ramaditya Adikara

Lagi pula, pula dari sebutan yang disandangnya (Tuna netra, Penulis, Wartawan, Blogger, Game Music Composer, Motivator), hanya satu yang belum layak, yaitu Game Music Composer. Siapa tahu, beberapa tahun kedepan impiannya itu menjadi kenyataan.

Comments»

1. perenunghidup - October 3, 2010

Hmm..
Menurut saya kejujuran adalah hal yang penting..
Karena kejujuran bisa menghapus kepercayaan orang terhadap segala sesuatu yang telah terjadi sebelumnya..

======================
Hmm..
Terima kasih sudah mampir dan beri komentar…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: