jump to navigation

Salah Tafsir (Mungkin) October 9, 2010

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags:
trackback

 

Kalo kita salah menafsirkan bacaan, seringkali geli sendiri. Republika Sabtu, 9 Oktober 2010, halaman 3, dengan judul kolom Mengoreksi Pemerintah dari Muhammadiyah, bikin geli karena mungkin aku salah tafsir. Aku kutip sedikit tulisan itu:

Diawal diskusi berjalan dengan ‘lembut’, barulah kemudian Rizal Ramli mulai bersuara keras. Dia menyebut negara sudah gagal dan tidak mampu lagi menjamin hak-hak rakyat.

Kegagalan demi kegagalan bangsa, menurut Rizal, disebabkan kepemimpinan yang lemah. “Oleh karena itu, apakah kita minta baik-baik untuk beliau (Presiden)  untuk mengundurkan diri atau kita akan melakukan pergerakan,” kata Rizal mengajukan opsi, disambut senyum dan gelak tawa rendah dari sebagian orang yang ikut menonton jalannya diskusi itu.

Marzuki Alie, yang tak lain adalah kader Partai Demokrat pun pasang kuda-kuda membela SBY. Menurut dia, kegagalan yang terjadi saat ini karena Bangsa Indonesia kurang bersyukur. “Kalau kurang bersyukur, azab Allah akan datang,” kata Marzuki.

Kalau aku membaca secara runut apa yang tertulis, maka diskusi yang semula disebut ‘lembut’ itu berubah menjadi ‘keras’ karena suara keras Rizal Ramli. Rizal Ramli menunjuk pokok persoalan penyebab kegagalan negara disebabkan kepemimpinan yang lemah. Jadi mencoba menafsirkan pendapat Rizal Ramli, bangsa gagal karena negara gagal dan itu disebabkan karena kepemimpin yang lemah.

Membaca kelanjutan tulisan itu, aku menafsirkan, Marzuki Alie menanggapi suara keras tersebut dengan membela Presiden (tentu saja). Karena pemimpin yang disuruh mengundurkan diri oleh Rizal Ramli adalah Presiden, yang berasal dari partai yang sama dengan Marzuki Alie. Tetapi yang disalahkan oleh Marzuki Alie justru Bangsa Indonesia. Bukan salah pemimpin, apalagi salah Presiden.

Rizal Ramli yang mengatakan negara gagal menjamin hak rakyat disambut dengan tanggapan bahwa kegagalan itu adalah azab (hukuman) dari ALLAH, karena rakyat kurang bersyukur. Yang dibicarakan disini tentu saja sama sekali bukan bencana alam, gempa bumi, banjir, puting beliung atau tanah longsor, yang diterjemahkan sebagai azab dari ALLAH, melainkan kegagalan negara.

Tulisan itu bisa aku tafsirkan;

Bangsa Indonesia kurang bersyukur, karenanya diazab ALLAH dengan menurunkan pemimpin yang lemah. Yang kemudian dipilih oleh rakyat, tetapi tidak bisa memimpin negara untuk menjamin hak-hak mereka. Dan kegagalan itulah yang merupakan azab bagi bangsa yang kurang bersyukur.

Tapi kenapa Marzuki Alie justru menyalahkan rakyat untuk persoalan pemimpin yang lemah? Apakah maksudnya karena rakyat salah memilih maka bencana-demi-bencana beruntun seolah azab dari ALLAH datang kepada kita. Tetapi apakah memang salah memilih pemimpin itu memicu azab berupa bencana alam ya?

Mungkin aku salah tafsir.

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: