jump to navigation

Bangsa Pemakan Gandum October 14, 2010

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags:
trackback

Bangsa ini memang beragam. Termasuk jenis makanannya. Dari ujung Barat sampai Timur pastilah bermacam-macam bahan dan rasanya. Tapi rasanya semua makanan itu memakai bahan baku dari apa yang bisa ditemukan di tempat itu juga. Dan itu sangat wajar (waras).

Gudeg contohnya, menu sarapan masa kecilku yang tersedia di meja makan dibeli dari Pasar Nggading Plengkung Alun-alun Kidul NgaYogyakarto. Bahan-bahannya gampang dicari di seputaran Yogya. Nggak perlu nyari nangka dari luar kota, apalagi harus impor. Tahu tempe krecek lombok kelapa semua mudah didapat.

Empek-mpek Palembang, rasanya gampang banget cari tengiri di seputaran Palembang. Rujak cingur, gado-gado, ketoprak (pake bihun, rasanya bukan dari gandum ya?), karedok, sego liwet, soto ayam, sop kikil, becek kepala kambing, sate ayam atau kambing, tongseng, soto babat, rendang, papeda, rica-rica, bogana, nasi bali dan masih buanyak lagi makanan khas daerah di bentangan Nusantara ini.

Dari dulu aku memang sudah sangat heran, kenapa kok bangsa ini (termasuk aku tentunya) senang memakan mie, yang bahan bakunya (rasanya) tidak ada di negeri ini. Bahan itu rasanya harus di-impor. Tepung terigu.

Kalau pengen makanan dari “sono”, kenapa nggak milih kwee tiaw yang dibuat dari beras, yang banyak dan mudah ditanam disini. Kenapa harus mie? Apalagi sekarang mie instant, yang pasti pakai bahan pengawet. Bahan yang berbahaya untuk tubuh kita (banyak sedikit sangat relative). Buktinya, Taiwan membredel produk mie instant Indomie. Dan ternyata, produk yang diekspor berbeda dengan produk yang dijual di dalam negeri. Memangnya perut bangsa kita lebih kuat dari perut mereka ya?

Ada baiknya bangsa ini kreatif membuat mie dari bahan beras, singkong atau jagung. Berhenti makan mie instant. Makan singkong rebus atau goreng, jagung rebus atau bakar, kwee tiaw siram atau goring atau pisang rebus atau goreng. Tak usah makan gandum. Konon tubuh lebih menerima bahan makanan dari mana orang tuanya berasal dan sering menolak bahan makanan asing.

Entahlah.

Comments»

1. dedoik - October 14, 2010

Jangan lupa satu hal lagi. Bangsa pemakan keledai, dari mulai bentuk tempe-tahu,kecap dan turunan lainnya terbuat dari kacang kedelai.
Tapi tahu kah, bahwa produksi kedelai dalam negeri hanya 20 % dari kebutuhan nasional,sisanya harus di import.
Miris!

==============

jadi selama ini tempe, tahu, sambel tumpang (tempe bosok) warisan eyang-eyang itu bahannya impor ya?
berarti eyang-eyang dulu sudah doyan ngimpor dong.
terima kasih sudah memberikan tambahan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: