jump to navigation

Rindu Haji October 22, 2010

Posted by merenung in Jum'at, Serba-serbi.
Tags: , , , , ,
trackback

Mencoba merenungi apa yang ada dibalik sesuatu memang sangat luas dan beragam. Apalagi kalau itu adalah keyakinan kita. Walaupun yakin se-yakin-yakinnya, merenungkan dan mencobanya dengan pertanyaan sering kali mendapatkan sesuatu yang baru dan menarik. Tentu akan lebih baik, jika itu menjadikan kita semakin kuat meyakini.

Sangat tidak heran mendengar orang yang ingin sekali pergi haji. Rukun Islam yang mensyaratkan bagi yang mampu, untuk melaksanakannya. Lebih tidak heran lagi mendengarkan cerita kangennya orang yang sudah pergi haji. Betapa rindu dendam itu selalu saja membuat air mata tak terasa menetes. Tetapi, apakah kalau kita mampu, lalu kita bisa begitu saja mengulang dan berangkat lagi? Berulang-ulang? Ini yang setiap tahun menjadi bahan renungan.

https://merenung.wordpress.com/2008/04/12/ibadah-haji-hanya-satu-kali/

https://merenung.wordpress.com/2008/04/02/niat-pergi-haji/

https://merenung.wordpress.com/2008/03/11/we-still-be-mosleem/

Rasanya dibalik setiap Rukun Islam yang lima itu terkandung makna yang sangat dalam. Tidak sekedar dikerjakan lalu selesai. Justru perilaku setelah dilaksanakan itulah inti dari Rukun Islam itu, menurutku.

Bersyahadat; walau sesederhana berucap “Tiada Tuhan selain ALLAH dan Muhammad adalah utusan ALLAH”, konsekuensi logisnya justru pada “sesembahan dan idola kita” di kehidupan sehari-hari.

Sholat; wajib lima waktu dan beberapa sholat sunnah sebagaimana Baginda RasuluLLAH SAW contohkan, juga menuntut kita untuk hidup dengan akhlak mulia. Sebagaimana sholat itu untuk mencegah perbuatan keji dan munkar.

Puasa; bukanlah diet kesehatan dengan menahan makan dan minum (serta hal lain yang membatalkan), tetapi justru mengajarkan kita untuk “mengendalikan diri dari yang halal” (bukan mencegah dari yang haram lho), dengan ganjaran pahala nikmat yang berlimpah.

Zakat; kelihatan sangat kecil dan tidak seberapa, tetapi benar-benar mencoba keikhlasan kedermawanan seseorang. Berzakat itu bukan sekedar peduli dan berbagi, lebih jauh mencoba (to test) seberapa jauh pemaknaan harta di dalam hati kita.

Haji; betapa yang satu ini sangat menarik bagiku bagai penyempurna. Seolah lengkaplah sudah ibadah kita. Tetapi, apakah demikian. Lalu apa artinya rukun haji. Yang paling sederhana, mengapa kita diharuskan memakai dua lembar kain (tidak berjahit) saja. Sangat berbeda dengan masuk masjid untuk sholat. Orang bisa mengenakan pakaian yang mereka senangi. Karenanya, kita bisa melihat seorang parlente dengan baju gamis yang rapi lengkap dengan songkok hitam mengkilat sholat berjajar didalam masjid dengan seorang sarungan dengan hem yang sudah pudar warnanya memakai peci anyaman rotan. Tapi akan aneh jika kita bertemu orang yang wukuf di Arafah tidak memakai ihrom (kain putih yang hanya dua lembar itu). Apa ada yang pakai songkok atau tutup kepala? Mungkin pedagang makanan atau supir bus, pikir kita.

 

Dari banyak dan tidak terbatasnya makna ihrom, satu hal yang aku pahami adalah tanggalnya semua keduniawian. ALLAH menghendaki kita melengkapi rangkai ibadah dengan menanggalkan keduniawian. Hanya dengan dua helai kain tanpa jahitan kita menjalankan semua ritual itu beberapa hari. Apakah perintah ihrom itu tanpa konsekuensi? Apakah itu bukan berarti selain menyamakan perilaku, kita disuruh juga menyamakan “pakaian” dengan saudara muslim kita dalam keseharian? Mengapa terlihat justru sebaliknya, kita berlomba-lomba membedakan “pakaian” dengan bermewah-mewah?

Beberapa kali aku bertemu dengan kenalan yang mengulang hajinya. Beragam alasannya. Kurang yakin keabsahan hajinya (walau tidak bercerita itu apa). Dulu berangkat dibayarin kantor (maksudnya tidak pakai duit tabungan sendiri). Atau sekedar kangen dan pengen lagi. Ketika ditanya kalau lupa rakaat sholat atau sholat tidak konsentrasi apakah dia mengulang sholatnya? Dia jawab tidak, padahal mengulang sholat nggak pake ongkos. Yang lainnya, kalau disuruh mengganti ongkos haji dari kantornya dan diberikan kepada saudara muslimnya, dia merasa jatah itu sudah menjadi haknya. Kalau kita punya uang dan pengen, apa lalu kita boleh pergi haji berkali-kali, tanpa perduli dengan saudara muslim kita.

Hari Wukuf itu satu hari, waktunyapun terbatas. Arafah itu tidak pernah meluas, daya tampungnya hanya segitu-gitu saja. Jadi saudara muslim kita yang lain, kalaupun mampu harus bergilir untuk bisa naik haji. Lalu kenapa kita menghilangkan kesempatan mereka demi kesenangan kita untuk mengulah haji kita? Kalau umur kita pendek, kita sudah berhaji. Tetapi kalau umur saudara kita yang pendek dan terhalang hajinya karena jatahnya tertunda oleh kita? Muslim seperti apa kita ini?

Kalau mau haji berkali-kali, tunggu nanti fatwa hari Wukuf jadi 10 hari, kalau Arafah sudah ditingkat sepuluh, jadi yang Wukuf bisa 50 juta orang sekaligus. Dan kalau itu terjadi, bagaimana dengan Tawaf dan Sa’i nya? Cobalah renungkan.

 

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: