jump to navigation

Apesnya Rakyat October 26, 2010

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags:
trackback

Di negeri ini, jadi rakyat jelata memang belum pernah enak. Bisa jadi tidak akan pernah enak. Kalau mau enak, jadi orang kaya, penguasa (orang-orang yang punya kuasa atas rakyat) atau paling tidak jadi wakilnya. Kalau orang kaya, tentu nggak usah diterangin enaknya. Semua serba praktis. Pengen makan tinggal beli, pengan mobil tinggal beli, pengan jalan-jalan tinggal berangkat, kasihan sama orang tinggal kasih duit. Semuanya praktis dengan uang.

Jadi penguasa, yang katanya melayani masyarakat itu, pada kenyataannya justru kebalikannya. Berapa banyak uang rakyat dipakai untuk beli mobil dinas yang dipergunakan untuk antar jemput anak sekolah atau istri belanja. Berapa banyak uang dibelanjakan untuk mensejahterakan penguasa tapi rakyatnya tetap tidak terlayani. Malah sering kali kita melihat rakyat tertindas dibiarkan sendiri bergulat dengan kesulitannya tanpa mendapat pelayanan dari penguasa. Kok pelayanan, diperhatikanpun mungkin nggak sempat. Buktinya ada penguasa yang telat nangis. Wong petani dari dulu itu tetep miskin dan kesulitan kok sekarang mendadak terharu seolah baru ngeh rakyat taninya miskin. Emang selama ini kemana aja?

Lain lagi wakil rakyat. Kumpulan orang-orang terhormat ini bak diatas angin. Deket pemilu mereka menyanjung-nyanjung rakyat pemilihnya supaya dapat dukungan. Uang dihamburkan semudah janji-janji kemakmuran menina bobokan rakyat yang pin-pin-bo ini. Rakyat yang punya ingatan kecil dan pendek karena nggak pernah di-upgrade. Setelah terpilih dan duduk dikursi parlemen, apa yang diusahakannya? Memikirkan rakyat yang diwakilinya? Rakyat pada umumnya? Jangan mimpi.

Kalau pun mereka terlihat gigih memikirkan rakyat, coba sedikit sabar perhatikan, apa kepentingan pribadi yang dititipkan diatasnya. Kalau kepentingan pribadinya sudah didapat, coba tengok kegigihannya apa masih menggebu? Kalau rakyat bereaksi dengan ulah mereka yang banyak menuntut, mereka pasti berdalih “rakyat yang mana” atau “ mewakili siapa” dengan muka “cakepnya” yang terus cengengesan. Jalan-jalan studi banding keluar negeri seolah menjadi kewajiban utama yang tidak bisa ditunda apalagi dibatalkan. Walaupun mungkin dari jaman dulu sudah dilakukan studi banding tata kota, tetapi kota tetap macet dan semrawut. Studi banding perkereta apian, kereta kita malah tabrakan melulu. Studi banding yang macam-macam itu seolah tidak perlu dilihat hasilnya, apalagi dirasakan rakyat pemilihnya.

Pergilah wahai wakil rakyat ke negeri yang kalian suka. Belajarlah etika seperti yang kalian cita. Etika dari bangsa dewa-dewa. Yang dikenal korup dilingkungannya.

 

Rakyat tetap bergulat dengan persoalan hidup mereka dan tak bisa berharap akan mendapat pelayanan yang pantas dengan segera. Karena statistik menunjukkan rakyat miskin sudah turun, pertumbuhan ekonomi sudah tumbuh baik, pasar sudah bergairah, maka salah sendiri kalau masih tetap miskin dan punya masalah. Tunggulah pemilu nanti dan berharap dapat “sogokan” dari para calon. Lalu pilih lagi mereka yang menyenangkan dan menghibur hati kalian, walau itu semua bagai iklan yang jauh dari kenyataan. Entah kapan rantai ketidak berdayaan masyarakat ini akan terputus.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: