jump to navigation

Rimba Demokrasi (?) November 1, 2010

Posted by merenung in Umum.
Tags:
trackback

picture copied from blog gegenism

Mencuplik sedikit penjelasan dari Wikipedia tentang demokrasi, terlihat jelas bahwa ini bukanlah produk local. Kalau bukan local pastilah import. Ini cuplikan itu.

Demokrasi adalah sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.[1] Begitulah pemahaman yang paling sederhana tentang demokrasi, yang diketahui oleh hampir semua orang.[1]

Demokrasi juga adalah adalah bentuk pemerintahan politik dimana kekuasaan pemerintahan berasal dari rakyat, baik secara langsung (demokrasi langsung) atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan).[2] Istilah ini berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία – (dēmokratía) “kekuasaan rakyat”,[3] yang dibentuk dari kata δῆμος (dêmos) “rakyat” dan κράτος (Kratos) “kekuasaan”, merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan abad ke-5 dan ke-4 SM di negara kota Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM.[4]

Selengkapknya baca di http://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi

Bandingkan dengan sila ke empat Pancasila, yang menurut sejarah memang diramu dari bahan baku local, sehingga hampir tidak ada (atau paling tidak sedikit sekali) unsur asing yang mempengaruhinya. Ini dia sila tersebut;

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila#Sila_keempat

  1. Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
  2. Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  3. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  4. Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  5. Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  6. Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  7. Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  8. Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  9. Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.

10.  Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

picture copied from blog gego

Benar-benar mengherankan suatu yang sangat tinggi seperti sila kerakyatan itu bisa hilang tak berbekas ditelan hukum mayoritas (apapun embel-embelnya tetap kekuasaan ada di mayoritas) yang lebih mirip dan dipahami oleh jaman purba atau hukum rimba. Siapa kuat dia yang menang. Mau benar atau salah yang banyak pasti menang (baca: “benar”). Itu sebabnya bahasa kaum beradab kalau mempertahankan “kebenarannya” selalu cengengesan bilang, “rakyat yang mana?” atau “mewakili siapa”, dengan senyum lebar wajah “ngganteng”nya. Bagaimana yang sedikit (baca: “lemah”) bisa menang di alam demokrasi (baca: “rimba”). Wong mereka bukanlah yang diperhitungkan dalam kekuasaan. Mereka hanyalah pelengkap, karena mana mungkin dibilang banyak kalau tidak ada sedikit. Tidak ada yang kuat kalau tidak ada lemah, dan tidak ada menang kalau tidak ada yang kalah. Karenanya orang-orang kecil bisa apes, dituduh, direkayasa atau difitnah dan masuk penjara (ya nanti diadili lah, asal sabar nunggu), tapi orang besar nggak boleh apes, nggak boleh direkayasa, nggak boleh difitnah. Deponir, tanpa perlu ke pengadilan. Salah sendiri mau jadi orang kecil yang nggak punya pendukung. Lain kali galang dukungan lewat facebook, wahai pencuri kakao, pencuri sandal jepit, pencuri bumbu dapur, mudah-mudahan ada yang peduli.

Lalu lintas juga hasil demokrasi itu. Walau banyak tulisan yang menghimbau untuk tertib, nyatanya yang sabar dan tertib selalu saja kalah karena diserobot seenaknya oleh orang lain yang “kuat dan berani”. Di jalan tol yang menganut lajur kiri, kendaraan lambat justru merapat ke kanan. Bus dan truk dengan santai mengambil lajur tengah atau sekalian ke kanan. Serunya lagi, mobil-mobil dengan “kekauatan lain” meluncur deras dari sebelah kiri, dan tentu mobil berkelas ambil paling kiri “bahu jalan”. Mantab benar negri suka-suka ini.

Kalau Pancasila pernah dimanipulasi dan dimanfaatkan untuk kepentingan kekuasaan, itu juga terjadi pada agama-agama, apalagi demokrasi (ala rimba) ini. Permainan primitif yang mengandalkan kekuatan pembenaran. Sekarang ini ada “suara rakyat” yang mulai terdengar lantang. Dari langit lewat sapuan air dan angin ribut, dari perut bumi lewat gempa, dari mulut gunung lewat awan panas dan lava, dari laut lewat terjangan ombak setinggi sepuluh meter. Kalau “suara rakyat” ini belum juga terperhatikan, lalu bertanya “rakyat yang mana?” atau “mewakili rakyat siapa?” atau “pemilih yang mana?”, sambil cengengesan lebar di wajah “ganteng” nya, entah harus bagaimana lagi rakyat bersuara.

picture copied from cyberjatim.tk

Mimpi untuk keluar dari rimba tentu bukan hal yang gampang (apalagi monyet kecil kayak gue begini). Akhirnya cuma bisa bergelantungan dari satu dahan ke dahan lain, sambil teriak-teriak nggak jelas. Kadang loncat-loncat, garuk-garuk kepala sambil mencibir-cibir bibir yang sudah monyong ini. Entah sampai kapan jadi monyet seperti ini.

Comments»

1. Mukhlis - July 10, 2011

Betul sekali Mas. Persis yang aku lihat tentang demokrasi di negeri ini. Oleh karena itu sesungguhnya para sesepuh pendiri bangsa ini sudah merumuskan corak demokrasi di Indonesia sewaktu sidang BPUPKI itu dengan model “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusayawaratan/perwakilan”. Jadi jelas bukan dengan suara terbanyak yang akhirnya mirip hukum rimba itu. Saya sangat sependapat dengan Anda.

=========

Terima kasih telah mampir dan menulis comment.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: