jump to navigation

Uang Uang Uang January 5, 2011

Posted by merenung in Umum.
Tags:
trackback

Kalau tidak keliru, ada paham suatu masyarakat (sebaiknya tidak disebut) yang mengatakan, bahwa Tuhan telah kehabisan “kekuatan” sesaat setelah mengerahkannya untuk menciptakan alam semesta ini. Karenanya, Tuhan tidak lagi “berkuasa” atas dunia ini, terutama atas manusia. Mahluk yang diciptakan Nya sempurna dan paling istimewa ini.

Dunia dikuasai sepenuhnya oleh “uang”. Alat tukar yang semula diciptakan oleh manusia untuk mempermudah interaksi di dalam hidup ini, ternyata belakangan bagaikan alat adi daya. Bagaimana tidak, jika semua hal di dunia ini, baik yang di permukaan maupun yang ada di dalam perut bumi, bahkan yang samar-samar atau yang gaib sekalipun, semuanya selalu diukur dengan bilangan-bilangan uang.

Lihatlah Gayus sebagai contoh. Seperti masih kurang mengejutkan dengan kepemilikan limpahan harta untuk pegawai negeri segolongannya, Gayus melanjutkan kejutan dengan menonton pertandingan tennis kelas dunia di Bali, padahal selain olah raga itu tidak diminatinya, status Gayus adalah seorang tahanan yang sedang menjalani persidangan. Karena para penegak hukum masih main petak umpet dengan semua sepak terjangnya, Gayus melanjutkan program kejutan awal tahun 2011 ini dengan berita perjalanan ke luar negeri menggunakan passport orang lain.

Kalaupun nanti akhirnya tidak terbukti, faktanya hukum di negeri ini memang sudah carut marut tak tentu arah. Semua serba kepura-puraan, ketidak seriusan, ketidak mampuan, kesulitan pembuktian, dan ujung-ujungnya bak menegakkan benang basah. Lemah lunglai tidak berdaya.

Inilah fakta yang tidak terbantahkan dari paham “uang berkuasa” mengambil alih peran kuasa Tuhan. Tuhan tidak lagi mengetahui kong-kalikong para penegak hukum dan politisi (tentunya). Tuhan tidak lagi melihat siapa yang korupsi dan yang menyuap. Tuhan tidak lagi bisa membedakan siapa yang jujur dan siapa yang berbohong. Di mata mereka, mungkin Tuhan memang sudah tidak berkuasa lagi. Kalau dimata mereka Tuhan masih berkuasa, masih mengetahui, masih melihat dan bisa membedakan yang baik dan buruk, bagaimana mungkin mereka berbuat maksiat karena uang di depan Mata-Nya?

Comments»

1. Lutfi Retno Wahyudyanti - January 6, 2011

Semua segi kehidupan membutuhkan uang, jadi ada banyak manusia yang lupa bahwa mereka tidak hanya sekadar hidup saat ini dan kelak harus mempertanggungjawabkan hidupnya pada tuhan. Coba lihat hal yang sehari2 ada di sekeliling kita. Acara TV banyak yang isinya tidak bermutu karena pemiliknya mengejar keuntungan. Orang banyak yang ingin jadi PNS karena ingin gaji terus menerus dan pensiun tanpa memikirkan pekerjaan yang sesuai dengan mimpinya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: