jump to navigation

Mencintai atau Dicintai August 9, 2011

Posted by merenung in Kehidupan, Umum.
Tags: ,
trackback

Seorang kawan bertanya, bagaimana cara mengarahkan anak dengan benar. Kebetulan konteks pembicaraan adalah mencari sekolah yang cocok untuk anak. SMA Negri atau Swasta. Perguruan Tinggi Negri atau Swasta, dan seterusnya. Maklum, pas kenaikan, musim lulus lulusan dan cari sekolah. Tentu saja aku menjawab sesuai dengan apa yang aku alami saja, karena rasanya sulit menemukan kondisi  ideal, yang untuk setiap orang pastilah berbeda-beda.

“Saya bilang ke anak saya, kamu cari sekolah yang cepat bisa menghasilkan”, demikian kawanku ini.

Aku tanya; “Maksudnya menghasilkan itu apa?”.

“Maksudnya yang cepet bisa kerja dan dapet duit banyak”, begitu sahut kawan ini.

Aku bilang; “Itu ada benarnya tapi menurutku ada salahnya juga. Kita itu harus fokus pada amal (perbuatan) , dan bukan pada apa yang didapat (dibayar, dihargai dst). Karenanya kata ‘menghasilkan’ itu seharusnya menekankan pada ‘meng-hasil-kan’ bukan ‘men-dapat-kan’. Cepat dapat kerja itu harus dimaknai cepat mendapatkan tempat untuk ‘berkarya’, sehingga dapat  segera ‘bermanfaat’, terutama bermanfaat untuk ‘orang lain’. Jadi bukan fokus pada ‘apa yang akan didapat’. Seperti bayaran atau gaji yang banyak dan seterusnya.”

Teringat pada pilihan sederhana yang sering kali mendapat jawaban berbeda-beda. Lebih baik “Mencintai” atau “Dicintai”. Banyak juga (terutama kaum perempuan) yang memilih, lebih baik “Dicintai”. Tetapi saat mereka disuruh memilih, lebih baik “Memberi” atau “Diberi” hampir semua memilih “Memberi”. Lebih baik “Menolong” atau “Ditolong”, semua memilih “Menolong”. Karena sesungguhnya fokus kita haruslah “Me” (beramal) bukannya “Di” menerima pemberian. Bukankah “hanya amal” saja milik kita? Yang lainnya akan kita tinggalkan?

Waktu aku tanya kawan ini pertanyaan sederhana itu, lebih baik “Mencintai” atau “Dicintai” dia jawab, “Mencintai”. Penasaran, aku lanjutkan bertanya, lebih baik “Kerja tidak dibayar” atau “Tidak kerja tapi dikasih duit”. Dia jawab, lebih baik “Kerja tidak dibayar”. Jadi pingin jail aku tanya, lebih baik “underpay” atau “overpaid”. Dia jawab “underpay”. Bukan cuma itu jawabannya. Dia menambahkan, “Saya berdo’a supaya “underpay”, karena ternyata rejeki (berupa pekerjaan, proyek dst) bertambah banyak, sampai kita tolak-tolak”.

Hah ..! Ganti aku yang kaget. Gimana nggak kaget, wong kalau berdo’a aku minta tambahan terus. Padahal kalau aku pikir-pikir, kurang apa sih hidup ini dicukupi oleh ALLAH, kok selalu minta tambah.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: